Tampilkan postingan dengan label Lampiran-lampiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lampiran-lampiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2008

Berita Peristiwa

Pada tanggal 4 September 1901, Tuhan telah memanggil dari dunia fana, Evangelist Daniel Hutabarat. Dia sudah masuk Kristen pada masa keperintisan, karena pada tahun 1865 dia sudah menerima baptisan. Jadi dia termasuk dalam bilangan orang-orang Kristen pendahulu di lembah Silindung, karena ketika Nommensen bermukim di "godung Pea" (gedung di tanah rawa) itu, dia (Daniel) sudah masuk Kristen. Sebabnya dia sudah begitu dini masuk ke komplek perguruan itu, dapat dikatakan hanya karena pembimbingan Allah saja kepadanya. Karena, hanya melalui kegiatannya yang menjual ilalang, bersama beberapa pemuda rekan sekampungnya, ke kompleks gedung yang dipimpin oleh tuan itu, dia mempunyai kesempatan "bersentuhan" dan berbincang-bincang dengan tuan itu. Pada waktu itu, banyak rumah-rumah kecil yang beratapkan ilalang yang dibangun oleh tuan itu, yakni untuk ditempati orang-orang yang akan masuk berguru. Mereka itu adalah orang-orang yang sudah diusir, dikejar-kejar dan dikucilkan oleh kaum-kcrabat semarganya. Beberapa .di antara mereka adalah keluarga orang-orang sedang bcrhutang yang dikejar-kejar, yang dibantu oleh tuan itu, seperti sudah kita baca dalam surat "Immanuel," yang memberitakan penyebaran Kerajan Allah di lembah Silindung.
.
Daniel lalu memasukkan dirinya menjadi pelayan tuan Nommensen. Lalu dia masuk menjadi salah seorang anggota perguruan, termasuk mempelajariaksara Belanda dan Surat Batak, terutama ketika waktu-waktu senggang dari pekerjaan dan tugas rutinnya Dia menunjukkan diri sebagai pelayan yang baik, bertanggungjawab dan menjadi kepercayaan bagi tuan Nommensen.. Karena itu tuan Nommensen menjadi sangat sayang kepadanya, sampai-sampai diperlakukan sebagai anaknya sendiri. Adalah tuan Nommensen pula yang menjodohkan Daniel dengan Maria Bom Siregar, seorang putri Angkola, saudara perempuan almarhum Guru Samuel. Sesudah mereka menikah, masih tuan itu sendiri yang memandirikan (teks asli: pajaehon) keluarga Daniel di kompleks godung itu, satu perkampungan dengan warga Kristen pendahulu itu.
.
Selang satu tahun setelah mereka menikah, Tuhan menganugerahkan seorang putra pertama bagi mereka, yang kemudian menjadi Pendeta Josua, sekarang tinggal di Siantar. Kemudian, Tuhan menganugerahkan lagi adik-adiknya bagi keluarga itu, yang lahir secara teratur-berurutan (teks asli: iubu-tubti mallo), Keluarga Daniel tetap bermukim di "godung Pea" itu, meskipun tuan Nommensen telah pindah lokasi rumah ke gedung Pearaja pada tahun 1873. Pekerjaan Daniel adalah sama seperti pekerjaan orang kampung biasa (teks asli: pordihutd), selama bermukim di "godung Pea" itu. Keluarganya mengolah tanah, berdagang ke Sibolga dan Angkola, sambil tekun mengerjakan dan mempelajari Firman Tuhan, dan menyuruh anak-anaknya bersekolah. .'Karena itu, semua anak-anaknya tahu menulis dan membaca. Dapat dikatakan, cukup banyak anugerah dan rakhmat Allah kepada keluarga Daniel, termasuk kepada para keturunannya. Karena Tuhan menuntun anak-anaknya itu kepada pekerjaan yang baik; karena satu orang anaknya sudah menjadi pendeta Batak, satu orang lagi menjadi guru, dan dua orang putrinya mas ing-mas ing menikah dengan pendeta Batak. Masih ada enam orang lagi putra dan putrinya yang belum bcrkeluarga, ditinggalkannya. Karena ada sepuluh orang putra-putrinya (penults: jumlah yang hidup sampai saat itu), yakni lima orang putra dan lima orang putri. Beberapa di antara mereka masih kecil, dan masih tinggal bersama ibunya.
.
Pada tahun 1880 profcsi Daniel menjadi berobah, karena dia, bersama beberapa orang penarua (sintua) terbaik yang dipilih, diutus oleh Tuan Nommensen mengikuti pendidikan "Sekolah Tinggi" di Pansur Napitu, untuk diajar oleh Tuan Johansen (almarhum); karena mereka akan dipakai tuan itu menjadi evangelist. Sesudah mereka menjalani pendidikan itu selama dua tahun, mereka ditamatkan, dan mendapat tugas menetap. Evangelist Daniel mendapat penempatan ke wilayah Butar untuk menyebarkan berita tentang Kerajaan Tuhan di sana. Dan selama dia memangku tugas pelayanannya itu, dia tidak pemah dipindahkan dari jemaat yang dibangunnya itu. Pada mUlanya, cukup banyak penderitaan yang menimpa Evangelis Daniel da lam pelayanannya di Butar; karena pada dua tahun pertama, Daniel masih tinggal sendiri di sana. Istri dan anak-anaknya terpaksa masih harus ditinggalkan di Huta Dame, karena masa-masa keresahan yang ditimbulkan oleh pasukan Raja Sisingamangaraja, yang membuat pernah terjadi pertempuran antara mereka dengan tentara pemerintah kolonial Belanda yang didatangkan ke sana. Pertempuran itu berlangsung dekat gedung gereja setempat. Bahkan, sesudah keluarganya menyusul ke Butar, masih saja sering terjadi kesusahan, seperti misalnya pertempuran yang masih terjadi pada tahun 1888. Dari kalangan warga jemaat Butar itu sendiri, mula-mula keluarga Daniel banyak menerima ejekan dan pelecehan, karena mempertahankan atau membela (teks asli: humophop) Firman Tuhan.
.
Jadi selama 18 tahun penuh Evangelis Daniel melayani di wilayah Butar, dari 1882 hingga 1900. Pada awal 1901 Daniel kembali ke kampung kakek-moyangnya, tinggal bersama dengan kaum-kerabat semarganya di Pagar Sinondi. Waktu itu, kondisi fisiknya sudah sangat lemah (teks asli; fongkong), karena sakit mcnua. Ketika menjelang kematiannya, pikirannya cukup cerah dan terang; karena begitu rumah untuk keluarga yang dibangunnya selesai, di mengundang semua raja-raja dan tetua kaum kerabatnya di Pagar Sinondi untuk menghadiri makan bersama pengucapan syukur kepada Tuhan. Pada saat itu Evanglis Daniel banyak mengucapkan kata-kata tuntunan dari Finnan Tuhan kepada semua yang hadir, supaya semua mereka tetap kukuh dalam Firman Tuhan, seperti mcrupakan kotbah atau kata-kata perpisahannya.
.
Sesudah acara peresmian rumahnya, penyakit Evangelis Daniel semakin bertambah berat, dan akhirnya, ketika dia tahu bahwa dirinya sudah akan dipanggil Tuhan, disuruhnya untuk memanggil semua putra, putri, menantu laki-laki dan perempuan serta semua cucunya, dari tempat pelayanan-zending mereka masing-masing. Mereka semua sudah berkumpul pada malam tanggal 4 September 1901. Para keturunannya itu duduk berkeliling dckat Daniel, berdoa bersama, dan dengan teguh dan sadar mereka saling berjabat tangan dengan orangtua itu, setelah lebih dahulu mcngucapkan kata-kata penghiburan dan perpisahan dari Firman Tuhan. Tepat pukul 6.30 pada malam harinya, Tuhan telah memanggilnya, dalam suasana hati tenang dan damai, sambil memegang teguh pada pembelaan dan penebusan Tuhan Yesus bagi dirinya. Karena itu, hati semua yang dikasihi dan ditinggalkannya menjadi cukup terhibur.
.
Berita Obituari, ditulis oleh Pdt. Josua Hutabarat Dalam berkala-zending, Immanuel, Edisi Maret 1902 (diterjemahkan oleh penulis dari teks asli dalam Bahasa Batak)

Surat Penjelasan Samuel Siregar kepada Rapat Tahunan Zendeling tentang Alasannya Mengawini Saudara Raja Sisingamangaraja

Laguboti 12, Juli 1885
.
Salam saya bagi Anda semua Tuan Guruku,
.
Saya, pelayan Anda yang bernama Samuel Siregar, Jurutulis Tuan Kontroleur Toba, mohon maaf (teks asli: marsantabi) kepada semua tuan Guruku yang sekarang sedang mengikuti rapat di Simorangkir ini. Saya mohon supaya Anda semua jangan bosan dulu mendcngarkan keluh-kesah orang berduka seperti saya ini. Itulah yang akan saya uraikan dengan runtut di bawah ini.
.
Saya kira Anda semua tuan Guruku sudah tahu bahwa saya menjadi jurutulis di Toba atas perkenan hati Tuhan, melalui suruhan dan dorongan Tuan kita, Tuan Nommensen. Sebenarnya hati saya tidaklah begitu gembira menjadi jurutulis, karena saya tahu banyak mara yang menghadang di sana. Tapi yang membuat hatiku tergugah, saya menjadi jurutulis di Toba, supaya bukan orang Islam yang didatangkan dan diangkat mendudukinya; supaya tidak terkendala penyebaran Firman Tuhan di sana; supaya tetap teguh.
.
Setelah itu saya memasuki pekcrjaan dan kedudukan tersebut. Saya tidak menjadi malas untuk tetap turut menyebarkan Firman Tuhan; karena itulah justru semakin banyak orang yang datang ke perguruan pada masa itu fyenulis: maksudnya perguruan yang dibuka dalam waktu yang hampir bersamaan oleh zendeling Pilgram). Sebatas kemampuan, saja tetap rajin membantu Tuan Pilgram (penulis: zendeling pertama yang melayani di Toba; berkedudukan di Balige).
.
Pada tangal 16 Maret 1884 saya menjadi duda karena kematian istri; hatiku begitu resah, dan menjadi bimbang tentang jalan yang Allah tunjukkan bagiku. Saya tidak mungkin terlalu lama menduda, karena anak-anak saya masih kecil-kecil fyenulis; kala itu dia punya tiga orang anak kecil yang masih "balita"). Saya sering melakukan perjalanan bersama-sama dengan "tuan panguhum" (penulis: maksudnya fiingsi tuan jaksa dan hakim), dan tidak ada yang dapat saya tinggalkan di rumah untuk menjaga mereka. Itulah sebabnya saya segera merencanakan untuk kawin.
.
Saya bulatkan hati untuk kawin lagi, dan menikahi saudara perempuan Raja Sisingamangaraja. Benar, biaya perkawinan saya cukup besar, dan karena itu saya meminta "tumpak" (penulis: dalam adat Batak, maksudnya bantuan untuk tujuan perhelatan) kepada mereka yang bersedia membantu. Untuk tujuan itu telah lebih dulu saya meminta petunjuk dari "tuan panguhum"; dan katanya, boleh-boleh saja menerima bantuan dari orang lain untuk mencukupkan biaya perkawinanku.
.
Saya juga minta pendapat dari "tuan panguhum" yang membolehkan saya memotong seekor kerbau untuk menjamu raja-raja dan handai-tolan yang telah memberikan "tumpak" sebagai cara saya untuk mengucapkan terimakasih. Dan tentang jamuan itu, saya mengumandangkan di hadapan tuan-tuan dan raja-raja bahwa saya bukan bermaksud menerima uang sogok dalam hal itu. Karena segala-galanya cukup terbuka dilihat oleh semua orang dan "tuan panguhum," demikian pula oleh Komandant Spandauw dan Pendeta Pilgram, semua raja-raja dan undangan yang hadir, lebih dari 500 orang yang mendengarnya.
.
Karena itu, cukuplah dulu mengenai hal itu, karena tidak ada sekarang tersembunyi yang tidak akan terbukakan kelak. Saya tegaskan, saya bukan menerima sogok, dan Tuhan mengetahui hatiku. Akulah yang bertanggungjawab kelak di hadapan Allah. Karena itu, inilah pernyataanku: saya tidak berdusta; saya tidak pernah membelokkan aturan hukum, karena saya takut akan Allah. Saya tidak pernah lupa kepada Allah, dalam keadaan apapun: miskin atau kaya; dalam keadaan berduka maupun bersuka. Percayalah Anda tuan-tuan Guruku, bahwa saya tetap berkotbah di hadapan raja-raja (penults; maksudnya raja-raja Batak) maupun dalam rumahku.
.
Saya mohon janganlah dulu bosan tuan-tuan Guruku untuk membaca suratku yang panjang ini, mohon-seribu kali mohon (teks asli: marsantabi, sampulu halt marsantabi) dengarkankah dulu penjelasanku ini:
.
Kalau ada terbetik berita mengatakan aku menerima uang suap kata orang, inilah asal-muasalnya: Ada seseorang yang bernama Ompu Tinggi dari Lumban Bagasan, Laguboti; dia itu adalah "anak-Kristen" dari Tuan Bonn. Dahulu dia kalah dari warga Banualuhu dalam Rapat; dia kalah suara sebanyak lima kampung. Karena itu dia terus resah karena kekalahannya itu. Karena itu dia mencari akal; dia cari orang yang dapat dimanfaatkannya, kalau-kalau keputusan Rapat itu masih dapat dirobah. Lalu dia mencari orang yang dia rasa cukup dekat kepadaku. Dan katanya, dia memberikan uang sebesar 80 ringgit kepada orang itu. Orang itu bernama Pangalonglong dan Guru Solobean. Kedua orang itu "ditempelnya", padahal tujuannya adalah untuk mcnjebak saya. Dan sesudah satu tahun, saya diadukannya.
.
Dalam Rapat sidang menjelaskan, dan saya memenangkan perkara pengaduan itu. Sidang menimbang dan memutuskan bahwa pengaduan seperti itu tidak patut. Saya tidak layak diadukan, karena uang sogok yang dikatakannya itu memang bukan diberikan kepadaku, tapi kepada orang lain. Dan karena itu, seharusnyalah Guru Solobean dan Pangalonglong yang dihukum. Karena merekalah sebenarnya kawan O. Tinggi berjanji dengan jamuan-makan segala di rumahnya; dan karena merekalah sebelumnya yang bersahabat.
.
Karena itulah 0.Tinggi menjadi berang, dan karenanya Tuan Bonn ikut pula mengancam. Katanya dia akan mengirim surat ke Padang, kepada Tuan Gubernur. Katanya, Tuan Bonn juga akan melawan "tuan panguhum" kalau dia tidak memenangkan pengaduan O. Tinggi. Karena itu dia terus tnengancam-ancam dan menakut-nakuti aku, bahwa saya harus mengaku menerima uang sogok dari 0. Tinggi. Padahal saya memang benar-benar tidak peraah menerima apa-apa dari 0.Tinggi itu. Kepada semua orang Tuan Bonn mengatakan bahwa dia punya kemampuan mengirim surat kepada "Tuan Bosar" (penults: mungkin maksudnya Gubernur Jenderal) untuk mengadukan siapa saja. Karena itulah kenapa 0. Tinggi dan Panail berani dan tahu cara membuat surat kepada tuan Asisten Residen di Sibolga melalui bantuan guru Kleopas Lumbantobing untuk membantu membuat pengaduan itu.
.
Kalau saya sampai mengadukan duka saya kepada Anda semua tuan Guruku, inilah sebabnya:
.
Serta-merta saya dikeluarkan (penulis: dieks-komunikasi) dari perkumpulan, yang berarti keanggotaan gereja, padahal belum ada yang pasti terbukti apa kesalahanku. Tuan Bonn telah mempermalukan saya di hadapan umum. Semua orang mengetahui saya dihina oleh tuan Bonn; katanya dia lebih percaya kepada O. Tinggi ketimbang saya; dan dia katanya akan mengirim ke surat kabar untuk memberitahukan kejahatanku. Hal itulah yang paling besar membuat saya berkecil-hati atas ulah Tuan Bonn. Saya belum pernah membuat rusak pelayanan pemberitaan Firman Tuhan; saya tidak pernah nakal (teks asli: fungkat) kepada siapapun; saya belum pernah membuat yang tidak patut menurut hukum kepada siapapun; bahwa saya tetap mau memberitakan Firman Tuhan dalam pekerjaanku selaku jurutulis; saya tidak pernah menganggar-anggarkan jabatanku itu kepada siapapun.
.
Kalau demikian, semua Anda Guruku yang terhormat, mohonlah Anda semua menimbang apa yang saya adukan ini; saya bukan mengada-ada kepada Anda; semua yang saya katakan adalah berdasar kebenaran. Tapi kalau soal iri-hati (teks asli: late-late), itu memang amat banyak pada manusia; dan saya sangat menyadan itu. Karena itu mohonlah aku yang mcrana ini Anda doakan, supaya saya tidak menjadi lenyap karena kedukaanklu.
.
Bahwa kalau saya menikahi saudara perempuan Sisingamangaraja, inilah sebabnya: Pertama, supaya Sisingamangaraja dapat menemukan kedamaian hati terhadap Kumpeni; supaya tidak lagi terus bermusuhan; dan supaja beliau keluar dari persembunyiannya. Karena saya tahu, hati Kumpeni senang juga bila Sisingamangaraja menjadi senang; karena kita juga mengharapkan turunan Singamangaraja menjadi Kristen sebagai perwujudan kehendak Allah. Yang kedua: Supaya kegiatan pemberitaan Firman Tuhan dapat melebar lebih jauh, kalau Singamangaraja sudah dapat kemudian. Karena adalah suatu kebenaran, beliau adalah orang yang dihormati di Tanah Toba. Sebenarnya itu tak perlu saya katakan, karena Anda semua tuan Guruku juga mengetahuinya. Kalau pun pada mulanya mungkin dianggap merupakan kebengalan hatiku (teks asli: hajungkatonku) karena bertekad memadu kekerabatan (teks asli: partondongon} kepada keluarga terhormat, akibat akhirnya cukup baik. Itulah yang diharapkan oleh hatiku, mencari salah satu cara untuk terus mengembangkan pemberitaan Firman Tuhan. Saya nyatakan itu bukan bermaksud mengada-ada. Anda scmua akan melihat hasil akhir pikiranku itu kelak. Semoga kasih karunia Tuhan memberikan kita cukup lama hidup. Sekian.
.
Itulah kata-kata yang saya ingin adukan kepada Anda semua Guruku; dan kata-kata pengaduanku mohonlah ditimbang seperti rabuk; tolonglah kata-kataku melalui hati yang santun, dan kerendahan hati ini di"6fl/uT* seperti emas. Mohonlah saya yang menulis surat ini semua Anda tuan Guruku manfaatkan (teks asli: parhaseang hamu). Sekian.
.
Salam takzim saya kepada semua Anda Tuan-Tuan Guruku. Dari saya pelayan Anda (teks asli: naposomuna):
.
Achtungsvoll
.
Samuel Siregar
.
(Diterjemahkan oleh penulis dari aslinya dalam Bahasa Batak Toba yang sangat santun. Catalan penulis: Samuel sendiri adalah orang Batak Angkola, tapi melayani sepanjang sisa hidupnya di Tanah Batak Utara sejak tamat dari Seminari Barmen pada tahun 1873).

Riwayat Pendeta David Hutabarat

Mendiang Pendeta David Hutabarat lahir pada tanggal 1 Mei 1893, waktu orangtuanya, Evangelist Daniel Hutabarat, melayani di jemaat Butar. Tapi Pagarsinondi, itulah negeri asalnya.
.
Pada tahun 1910, dia bersekolah di Jean Hamilton Training School, Misi Me thodist, di Singapura. Setelah David Hutabarat tamat pada tahun 1913, dia dikirim menjadi guru Injil dan guru sekolah Methodist di wilayah Bogor.
.
Setelah lima tahun lamanya dia menjadi guru, dia masuk ke "Admission on Trial" (penults; semacam pengakuan percobaan) pada saat pelaksanaan Conference Methodist Singapura tahun 1918. Kemudian dia diangkat menjadi "Deacon" pada tahun 1920, dan kemudian diurapi menjadi "Elder" (penults: kedua-duanya tingkatan dalam jabatan sebagai pendeta penuh) pada tahun 1920.
.
Pada tahun 1921 dia dan keluarganya menjalani cuti ke Sumatra, dan pada saat itu terjadi satu perobahan besar dalam kehidupannya. Itulah sebabnya Pendeta David menjadi tinggal di Sumatra menjalankan pekerjaan pelayanannya. Yang pertama di Pematang Siantar, kemudian Tebing Tinggi, Tanjung Balai, Mcdan, dan kembali lagi ke Tebing Tinggi, dan beberapa jemaat sekclilingnya. Sclama 33 tahun, Pendeta David melayani di tempat-tempat itu.
.
Pada tahun 1945 Pendeta David diangkat menjadi Acting Superintendent (penulis: semacam pejabat praeses-distrik) untuk Distrik Misi Methodist Tebing Tinggi; kemudian pada 1948 menjadi Superintendent penuh, yang diangkat oleh Bishop (penulis; semacam ephorus) Edwin F. Lee.
.
Pendeta David berhenti dari jabatan superintendent karena menderita sakit, tapi juga karena sudah waktunya menurut aturan, dalam Annual Conference (konferensi tahunan), bulan Januari 1954. Ada lebih-kurang satu tahun Pendeta Dav^d menderita penyakitnya, sampai akhirnya meninggalkan dunia fana ini pada tanggal 13 Oktber 1954 di Tebing Tinggi, dalam usia 61 tahun 6 bulan.
.
Selama hidupnya keluarga Pendeta David dikaruniai Tuhan 10 orang putra dan putri (penulis; yang sempat berkeluarga), yaitu enam orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Ketika beliau meninggal dunia, lima orang putra-putrinya telah berkeluarga, dan sudah bercucu lima orang.
.
Jenazah Pendeta David diantar ke pemakaman setelah dilakukan acara kebaktian pemberangkatan di Gereja Methodist Tebing Tinggi. Beratus-ratus orang turut mengantarkannya ke pemakaman, yang dipimpin oleh Pendeta Luther Hutabarat, Superintendent Distrik Tebing Tinggi.
.
Empatpuluhdua tahun lamanya Pendeta David bekerja dalam kebun anggur Tuhan. Dia adalah pekerja yang rajin dan kuat. Para anggota jemaat serta rekan sepelayanannya di mana sajapun, senantiasa mengindahkan dan menyanyangi dia. Panggilan datang kepadaanya, dengan seruan: "Masuklah dalam rumah kesukaan Tuhan". Baiklah kaiau kita ingat mendoakan Ibu yang ditinggalkan Pendeta David Hutabarat mendiang, dan anak-anaknya, kepada Tuhan Pcnghibur pada orang yang susah.
.
Berita Obituari disajikan oleh Panitia dalam Konferensi Tahunan Sumatra - Gereja Methodist 26-30 Januari 1955
.
Catalan tambahan dari penulis:
.
Dalam Konierensi Tahunan tersebut, diadakan pula suatu "Memorial Service" (Kebaktian Pengenangan) untuk memperingati Pendeta David Hutabarat, yang sebelumnya adalah rekan sepelayanan para utusan konferensi yang hadir. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Efraim Sihombing dan Pdt. S. Hutabarat. Nats khotbah diambil dari Surat Ibrani 13: 7-16. Dalam kebaktian inilah dibacakan Riwayat Hidup Pendeta David di atas, dalam teks aslinya berbahasa Inggeris, yang diterjemahkan oleh Pendeta Luther Hutabarat (bagi peserta konferensi yang tidak berbahasa Inggeris). Setelah Bishop Gereja Metodist mcngucapkan kata sambutan kepada keluarga, Jcnner Hutabarat, putra tertua Pendeta David, menyampaikan ucapan terimakasih atas nama keluarga besarnya. Kebaktian itu ditutup dengan "berkat" oleh Bishop.

Riwayat Hidup Ringkas dari Bapak Pendeta Albert Sihombing (almarhum)

Dia dilahirkan kira-kira tahun 1887 di kampung Sosor, Lumbanholbung, Bahalbatu. la adalah putra Izaak Sihombing, seorang Penatua Jemaat Bahalbatu. Hari dan tanggal kelahirannya tidak jelas, karena tidak ada cacatan mengenai hal itu. Juga karena dia lahir ketika orangtuanya masih memeluk agama-suku. Karena itu, dia menerima baptisan bersama-sama dengan orangtuanya, dan lima orang abang dan ito-nya, bahkan kakeknya yang bernama baptis Abraham (Ompu Toga Tunggal), Raja Ihutan Lumbanholbung, Bahalbatu. Dia tutup usia pada tanggal 21 April 1969, tepat pukul 8.30 pada malam hari. Jadi umurnya adalah kira-kira 82 tahun pada saat tutup usia itu.
.
Dia mulai masuk sekolah desa di Bahalbatu. Dan karena dia termasuk orang yang cakap, sesudah dia tamat sekolah desa itu dia diangkat oleh gurunya Pendeta Asser Lumbantobng menjadi guru-bantu di sekolah itu. Dan karena kecakapannya itu, dia dicalonkan oleh atasannya itu untuk mengikuti ujian saringan masuk ke Sekolah Tinggi di Seminari Sipoholon. Dia lulus ujian saringan itu, bersama 30 orang rekannya, pada tahun 1906.
.
Dia tamat dari Sekolah Tinggi itu pada tahun 1910, dengan predikat dari Panitia Ujian: "sangat memuaskan". Dia langsung ditempatkan menjadi guru di Huta Namora, Butar. Dari Huta Namora dia dipindahkan ke jemaat Gotting. Di tempat inilah dia menikah pada tahun 1911, dengan Ibu, Orem Boru Hutabarat dari Pagar Sinondi, putri Guru Daniel Hutabarat, salah satu di antara evangelis yang paling pertama dari Tapanuli Utara.
.
Pada tanggal 15 April 1915 dia pindah ke jemaat Siborong-borong. Pada tanggal 18 Agustus 1918 dia kembali bertugas di Huta Namora. Dan pada tanggal 1 Oktober 1919, dia pindah lagi ke jemaat tempat kelahirannya, Bahalbatu. Dan dari jemaat inilah pada tanggal 3 Januari 1920 dia berangkat mengikuti sekolah pendeta di Seminari Sipoholon, bersama 10 orang rekan seangkatannya. Dari semua rekannya pendeta seangkatan-tahbisan, dialah yang paling akhir tutup usia di dunia yang fana. Sesudah dia tamat pendeta pada akhir tahun 1922, dia langsung ditempatkan menjadi pendeta di jemaat Sihorbo, Barus. Pada tanggal 28 Desember 1926 dia pindah ke jemaat Parsambilan, Toba Habinsaran. Dan pada bulan Februari 1934 dia pindah ke jemaat Pangaloan, Pahae. Pada bulan Januari 1939 dia pindah pula ke jemaat Lintong Nihuta, Humbang. Dan bulan Maret 1940 pindah pula ke jemaat Para ng man. Bulan April 1943 pindah pula ke jemaat Muara yang digabungkan dengan jemaat Bakkara.
.
Sekitar tahun 1946, setelah merasa kekuatannya sudah amat berkurang, dia meminta kepada Ephorus supaya dia menjalani pensiun. Tapi karena jumlah pendeta masih sangat terbatas kala itu, permintaannya tidak bisa diluluskan sepenuhinya. Tapi pelayanannya diberi keringanan sedikit. Dia ditempatkan ke jemaat Bahalbatu, dengan hanya tiga atau empat jemaat cabang (pagaran).
.
Namun pada tahun 1950 dia kembali diangkat menjadi Pendeta Ressort di Pollung, Marbun. Barulah sesudah tamat pendeta-pendeta yang lebih muda dari Seminari Sipoholon, dia diizinkan Ephorus menjalani pensiun penuh pada tahun 1953.
.
Tapi meskipun dia sudah pensiun dari ke-pendeta-an, dia tidak langsung berhenti bekerja di kebun anggur Tuhan. Karena waktu dia masih di Pollung, dia sudah mohon kepada pemerintah untuk diangkat menjadi guru agama sekolah negeri. Ketika dia pensiun dari kependetaan, dia memilih tempat domisihnya di Siborong-borong, supaya lebih dekat ke kampung kelahirannya, Bahalbatu. Sekaligus dia minta pindah mengajar pada SMP Negeri Siborong-borong, sebagai guru agama. Kelak dia memperoleh hak pensiun penuh sebagai guru negeri, atau pegawai pemerintah. Jadi sampai dengan hari tutup usia itu, dia sudah melayani selama 59 tahun di ladang anggur Tuhan.
.
Sedikit Tentang Perjalanan Hidup dan Kekeluargaannya:
.
Selama hidupnya, dia termasuk pelayan yang sangat bersahaja dan rendah hati. Beberapa contoh berikut membuktikan kebersahajaannya itu:
.
Ketika dia menjadi pendeta di Parsambilan, kebetulan ada masa pemilihan kepala negeri di kampung asalnya, Bahalbatu. Kaum kerabatnya amat keras membujuknya supaya mau dicalonkan dalam pemilihan itu. Dia amat tegas menolaknya, dan mengatakan: "Kerajaan Allah bagi dia adalah jauh lebih berharga dari kerajaan duniawi."
.
Sesudah dia makin senior dalam kependetaan, dia pernah dianjurkan Ephorus supaya menjadi praeses untuk Distrik Humbang. Dia menolak, dan mengatakan, dia kurang layak untuk jabatan itu.
.
Ketika masih melayani sebagai guru (penulis: pada tahun 1915), Ephorus menunjuknya pindah ke jemaat Siborong-borong, yang semula amat keras ditolaknya, dengan alasan: dia kurang pintar bergaul dengan kalangan pegawai pemerintah dan instansi pemerintah itu.
.
Itulah beberapa contoh yang menunjukkan kerendahan hatinya.
.
Dalam kehidupan duniawi, dapat dikatakan tidak banyak harta-bendanya. Tapi meskipun demikian, Allah Bapak menganugerahinya kesuburan (teks asli: hagabeon). Ada 12 orang putra-putrinya yang hidup dan berkeluarga, yakni 4 orang putra dan 8 orang putri. Pada waktu tutup usia itu, dari 12 orang puta-putrinya itu, jumlah keturunannya semuanya 123 orang (penulis: tentu dengan memasukkan jumlah menantu, para istri dan suami cucu, yang lazim digunakan orang Batak untuk menghitung jumlah ketuiunan).
.
Demikianlah dengan ringkas riwayat hidup dan kepelayanan Bapak kita yang tua itu, Pendeta Albert Sihombing. Ketika beliau tclah tutup usia, Pucuk Pimpinan HKBP menerima langsung pemberitahuan dari putra bungsunya, Drs. P.T.D. Sihombing. Jadi, turut melayat dari Kantor Pusat HKBP adalah Ompu i, Ephorus, Ds. T.S. Sihombing; Sekretaris Jenderal, Ds. G.H. Siahaan; Kctua Seksi Publikasi, Pdt.K. Lumbantoruan; Ketua Seksi Dana Pensiun, Pdt. T.L. Sinaga, semuanya turut mengantarkan jenazahnya sampai ke pekuburan keluarganya di kampung Sosor, Lumbanholtung, Bahalbatu.
.
Dari Distrik Humbang datang pula Tuan Praeses Humbang, Pdt. G. Lumbantoruan, Anggota Parhalado Pusat, St. A. Sianturi, dan semua rekannya pendeta se-Humbang.
.
Immanuel-pun turut berdukacita atas meninggalnya Pdt. Albert Lumbantoruan almarhum. Dialah putra pertama dari marga Lumbantoruan-Sihombing menjadi pendeta di Huria Kristen Batak Protestan.
.
Semoga Tuhan menghiburkan hati Ibu yang tua itu, O. Boru Hutabarat, yang telah menjadi janda. Semoga Tuhan juga menghiburkan hati semua putra-putri dan semua keturunannya, di dalam negeri dan luar negeri. Psalm 126; 5-6.
.
Tertanda:
Pemimpin Redaksi Immanuel
Pdt. K.L. Sihombing
(diterjemahkan oleh penulis dari teks aslinya dalam Bahasa Batak).