Sabtu, 03 Mei 2008

Pelayanan Kependetaan - Jemaat Lintong Nihuta dan Paranginan

Pada bulan Januari 1939, pendeta Albertmenenma instruksi mutasi ke jemaat-induk Lintong Ninuta-bihomoing. Di jemaat ini pun dia juga harus "menemani" atasannya pendeta Jerman muda-usia lainnya, bernama de Graumann. Tidak terlalu banyak permasalahan yang dihadapi pendeta itu di jemaat-induk ini, termasuk dengan semua jemaat cabangnya. Bukankah kawasan ini dihuni oleh mayoritas warga jemaat bermarga Sihombing, terutama dari cabang Lumbantoruan, marga asal pendeta itu? Secara kebetulan dia berasal dari keturunan cabang yang paling-kakak dalam marga Lumbantoruan. Karena itu respek tua-tua dan warga jemaat seluruh Lintong Nihuta kepadanya cukup baik. Pelayanannya di jemaat ini adalah untuk meneruskan yang lebih lima-puluh tahun sebelumnya dirintis oleh zendeling Valentin Kessel dan para evangelis pendahulu.
.
Pada bulan Maret 1940, pendeta Albert sudah dimutasikan pula ke jemaat-induk Paranginan yang berbatasan langsung dengan resort Lintong Nihuta. Ketika melayani di jemaat inilah pendeta itu menerima kenyataan bahwa para tuan-pendeta Jerman atasannya, mulai dari Ephorus Dr. Verwiebe sampai kepada orang-orang sipil seperti dokter dan wiraswastawan dari toko-tokoHennemann, ditangkapi dan diinternir (ditahan) oleh pemerintah kolonial Belanda. Tindakan itu dilakukan sebagai tindak pembalasan atas penyerbuan dan invasi Jerman-Nazi kepada Negeri Belanda.
.
Pada tahun 1940 itu pulalah terjadi peristiwa besar bagi HKBP. Walaupun sudah resmi dinyatakan sebagai "badan hukum" pada tahun 1931, toh kendali pimpinannya masih tetap saja dipegang sepenuhnya oleh para pendeta Jerman. Namum, mulai saat zending "gulung tikar" itu, 90 orang pengerja pribumi HKBP (pendeta, guru zending dan penatua terpilih) melalui suatu sinode telah memilih voorzitter (ephorus)-nya yang pertama dari kalangan pendeta pribumi, yakni pendeta Kasianus Sirait. Ephorus Sirait adalah adik-kelas langsung pendeta Albert di Seminari Sipoholon yang tamat pada tahun 1925.
.
Peristiwa pendaratan pasukan penyerbu Jepang juga cukup berkesan di hati keluarga pendeta itu. Ribuan pasukan "tentara-payung" Jepang yang menyerbu, antara lain didaratkan di dataran-luas Sibosa yang cukup dekat dengan godung Paranginan. Di jemaat induk Paranginan inilah kemudian keluarga pendeta itu berkesempatan bergaul cukup akrab dan mesra dengan keturunan evangelis-guru Sopar Lumbantobing, rekan seangkatan mertuanya, evangelis-guru Daniel Hutabarat, dari angkatan evangelis pemula di Tanah Batak yang sama-sama melayani Humbang. (lihat Bab III, Bagian Pertama buku ini). Gerbang perkampungan turunan evangelis
Sopar berhadapan dengan gerbang kompleks godung jemaat-induk Paranginan.
.
Bersamaan dengan kedatangan pasukan Jepang (atau sedikit waktu sebelumnya), di seluruh kawasan Humbang sedang marak aliran atau sekte Kristen baru, yang kala itu disebut saja Na tondi-tondion (yang kerasukan roh), seperti banyak tercatat dalam sejarah zending dan HKBP. Setiap mengadakan kumpulan kebaktian, umumnya mereka menyatakan diri telah dipenuhi oleh Roh Kudus. Umumnya sampai dalam keadaan seperti "kerasukan" (trance), kadang-kadang sampai tidak sadarkan diri. Cukup berat tugas pelayanan pendeta Albert dan jajaran guru-zending dan sintua bawahannya untuk membendung aliran yang selalu "dirasuki roh" tersebut. Sebagai titik puncaknya, di sekitar tahun 1944 pendeta itu dipanggil mcnghadap oleh penguasa Jepang di Siborong-borong. Apa pasal?
.
Rupanya di salah satu kampung kawasan Paranginan, berlangsung satu kebaktian sekte "na tondi-tondion" itu dengan mengunci diri dalam sebuah rumah anggotanya. Agaknya kebaktian mereka sudah berlangsung sampai tiga hari-tiga malam. Ketika orang mengintip dari Iobang dinding-papan rumah itu, rupanya sudah ada di antara pengikut kebaktian yang "disalib" di dinding-dalam rumah, benar-benar dengan paku. Tidak begitu jelas apakah si tersalib mati atau hanya pingsan. Tapi pendeta Albert-lah yang "kena getah"-nya, dipanggil oleh penguasa Jepang untuk mempertangung-jawabkan masalah praktek keagamaan itu di wilayah pelayanannya. Hanya dengan susah-payah pendeta Albert menjelaskan bahwa "aliran sesat" itu sama sekali bukan tanggung-jawabnya, baru dia diizinkan pulang oleh polisi "kempetai" Jepang di Siborong-borong.

Pelayanan Kependetaan - Jemaat Muara

Pada bulan April 1943, pendeta Albert dimutasikan lagi. Sekali ini ke jemaat-induk Muara, yang juga berbatasan langsung dengan Paranginan dan Lintong Nihuta. Waktu itu jemaat induk Muara masih digabungkan dengan Bakkara. Karena itu, seluruh kawasan jemaat-layanan pendeta itu sangat luas. Mulai dari jemaat-cabang Bunturaja-Sitanggor yang berbatasan dengan Meat (Balige), sampai dengan jemaat Janjiraja yang berbatasan dengan Sabulan (Samosir). Mungkin hampir sepertiga panjang lilit pantai Danau Toba.
.
Jumlah seluruh jemaat layanannya kala itu sekitar 20 buah.Karena itu, pelayanan minggu kepada masing-masing jemaat cabang paling-paling hanya dapat dilakukan dua kali dalam setahun. Kecuali layanan yang dapat dilakukan pada hari kerja biasa, seperti pembtrkatan nikah misalnya. Meskipun pendeta itu sering dijemput dengan solu (perahu danau), dia lebih memilih berjalan kaki karena perasaan gamang naik perahu kecil. Namun pilihan itu tak bisa dilakukannya bila harus melayani jemaat Sibandang dan Papande yang memang terletak di dalam Pulo Pardopur (Sibandang).
.
Maraknya kembaii pemujaan berhala
.
Satu hal yang paling menyesakkan hati pendeta itu dalam pelayanannya di Muara persis pada zaman pendudukan Jepang, adalah kembaii maraknya praktek hasipelebe-guon (animisme). Menurut pengamatan, sebetulnya sampai dengan tahun 1940. banyak orang di kawasan Muara dan Bakkara yang masih terus mempraktekkan ritus-ritus "hasipelebeguon." Bahkan masih ada warga kawasan Muara yang hingga saat itu memang belum beragama Kristen. Keadaan kehidupan yang serba sulit dalam masa pendudukan Jepang semakin memancing banyaknya orang kembaii menyembah berhala di seluruh kawasan.
.
Beberapa kali dalam setiap bulan ada saja orang yang mengantarkanparsili ke sekitar godung. Baru di Muara ini pulalah keluarga pendeta itu mengenal dan menyaksikan apa sebenarnya "parsili", yang hanya pernah mereka dengar sebelumnya dari cerita orang lain, atau melalui bahan-bahan bacaan. "Parsili" adalah semacam orang-orangan yang digana (dibentuk atau diukir) dari bahan ubi besar atau hukkam (hati batang pisang) atau bahan sejenis lainnya yang lunak. Dengan tabas-tabas (mantra-mantra), yang dibacakan, panah kecil atau lidi ditusukkan ke bagian perut atau jantung gana-ganaan atau orang-orangan yang diukir. Menurut keyakman mereka, kalau parsili dimaksudkan untuk membunuh pendeta, guru atau anggota keluarganya, maka jantungnyalah yang akan pecah bila panah ditusukkan ke jantung patung orang-orangan itu.
.
Beberapa datu, terutama yang merupakan suhu para datu kecil setempat, sering datang menantang-nantang ke kompleks godung. Bila "kunjungan penghujatan" dilakukan pada pagi atau siang hari, para murid sekolah dan penduduk Lobutangga, kampung di sekitar gereja, akan berkelilmg menonton insiden yang terjadi. Penduduk sekitar amat suka ikut mainondur (menonton), bahkan sering pula ada di antara mereka yang justru "mengkipas-kipasi" sang datu agar hujatannya lebih seru.
.
Dengan iringan perangkat-kecil gendang oleh penginngnya, dalam suasana sangat magis, sang datu akan menari-nari atau bersikap seperti martnonsak (main pencak), sambil "memuntahkan" sumpah-serapah. Pakaiannya seram, serba hitam atau indigo. Sumpah-serapahnya konon ditumpahkan, karena "lahan pelayanannya" telah habis digarap oleh pendeta dan guru-guru jemaat bawahannya. Parsili lalu diletakkan. Biar pendeta dan guru-guru mampus, konon begitu kira-kira isi tonggo-tonggo atau doa sang datu.
Ternyata, ketika puluhan tahun kemudian penulis membaca bagian Berita tentang Muara dalam buku yang memberitakan pelayanan keperintisan para zendeling oleh penulis Jonathan T. Nommensen, sikap para datu dan penduduk Muara seperti itu sudah mulai dilakukan amat dini di zaman keperintisan. Diberitakan, bahwa kurun keperintisan di Muara sudah dimulai sekitar awal dasawarsa 1880-an. Berarti hampir enampupuh tahun kemudian, praktek dan sikap para datu di kawasan Muara kembali berulang. Ataukah memang masih terns berlangsung demikian setama enampuluh tahun itu, penulis kurang tahu.
.
Insiden pemanfaatan telor ayam yang sudah "dibuang"
.
Pada suatu siang, agaknya sumpah serapah seorang datu sudah begitu menggemuruh untuk dimuntahkan. Rupanya pagi itu sang pendeta dengan anak-anaknya yang terkecil pergi mandi ke Mual Sikkoru, sumber mata-atr yang amat jernih, jauh di kaki bukit. Dulu, para pendeta Jerman pernah membuat instalasi pipa saluran air-bersih dari sumber itu langsung ke godung, Lobutangga. Enaknya, dua-tiga kampung Lobutangga yang langsung berbatasan parik (dinding perkampungan) dengan godung, turut menikmati saluran "air PAM" yang gratis. Pendeta Jerman bahkan dapat membangun kolam ikan di samping rumah tinggalnya kala itu. Namun sejak para pendeta Jerman meninggalkan Muara, konon penduduk yang sebenarnya turut menikmati air itu sendirilah yang justru memotong-motong pipa itu supaya tidak bisa berfungsi. Contoh vandalisme dan elat (irihati) orang Batak yang terkenal!
.
Dalam peristiwa mandi pagi yang disebut di muka, pendeta dan anak-anaknya menemukan tiga butir telor ayam diletakkan orang persis di bagian hulu sumber kolam mata-air Mual Sikkoru. Anak-anak pendeta sedikit bergidik, karena tahu telor itu adalah persembahan kepada sombaon, yakni hantu penunggu mata air yang disembah. Tak urung, anak-anak pendeta terheran-heran ketika ayahnya memungut telor itu setelah mencek kesegarannya dengan "meneropongkannya" kepada sinar matahari. "Ini perbuatan orang bodoh...," kata pendeta itu.
.
Kebengalan sebagian penduduk Muara
.
Anak-anak Pendeta itu berkeberatan, bukan karena membawa Pulang telor ltu akan dianggap orang sebagai tindak pencurian, melainkan karena anggapan sifat magisnya saja. "ltu sudah dibuang orang; kita bukan mencurinya. Daripada terbuang percuma di situ, mari kita manfaatkan...," kata pendeta Albert kepada anak-anaknya. Ini kira-kira sama dengan persembahan ayam-putih, dengan ritus dilepas-bebaskan oleh seorang datu. Dan ayam seperti inilah yang kemudian kita kenal dengan ungkapan: "bebas burung"; artinya boleh ditangkap oleh siapa saja.
.
Mengetahui bahwa keluarga pendetalah yang mandi pagi itu di mata air, sang datu begitu murka menyumpah-nyumpah, biar segera mampus dimakan begu, karena berani "memungut" persembahan keramatnya kepada "sombaon" penunggu Mual Sikkoru. Dan ketika penulis semakin dewasa, sering mendengar bahwa para gembala sajapun sering bersukaria bila menemukan sesajen yang sudah "bebas burung" seperti itu dan memanfaatkannya, daripada terbuang percuma. Rupanya memang ada persamaan ketidak-percayaan kepada kuasa berhala antara sang pendeta dan para gembala itu.
.
Selain kendala paraktek "hasipelebeguon" yang masih marak. kala itu, masalah lain yang amat dikeluhkan keluarga pendeta Albert dalam pelayanannya selama di jemaat Muara adalah soal hajungkaton (harfiah: kenakalan) banyak warga jemaatnya, terutama yang bermukim di sekitar jemaat-induk, Lobutangga dan kampung Silalitoruan. Perihal "jungkat"-nya orang Muara, sebenarnya sudah banyak didengar dan diketahui oleh keluarga pendeta itu lebih dahulu melalui bacaan atas laporan-laporan zending masa lalu, sebelum mereka pindah ke sana.
.
Para zendeling pendahulu banyak memberitakan itu, sejak dari insiden pembakaran ruinah zendeling Bonn di godung Muara masih di sekitar tahun 1883. Nyawa tuan Bonn dan nyonya kala itu dapat diselamatfcan dari marabahaya ancaman penduduk setempat, hanya karena berhasil dijemput dan diselamatkan pada waktu yang sangat tepat oleh 0. Raja Huksa (Rajagukguk) dari Pulo Sibandang. Sejak itu, untuk waktu yang cukup lama, pos-penginjilan Muara hanya ditempati oleh para evangelis saja. Itupun lebih sering hanya merupakan kunjungan pelayanan sesaat-sesaat, bukan menetap.
.
Baru menjelang awal abad ke 20 pos Muara kembali diisi oleh pelayan tetap, terutama setelah zending menghasilkan pendeta-pendeta pribumi keiompok pemula. Cukup bijak, Ephorus Nommensen kemudian menempatkan seorang pelayan bermarga Siregar, yang sebenarnya bukan putra asli Muara, melainkan Angkola. Dia adalah pendeta Johannes Siregar. Johannes adalah pendeta pribumi dari angkatan pertama, tahun 1885, yang dipindahkan dari jemaat Banuarea menjadi pendeta pribumi pertama untuk Muara. Seperti diketahui, kawasan Muara ini dihuni oleh banyak sekali turunan marga Siregar. Namun tidaklah berarti "hajungkaton" kebanyakan orang Muara langsung berubah dengan pcnempatan pendeta Johannes, sepupu-jauh mereka, ke jemaat Muara pada masa dini itu. Bagi banyak warga Muara kala itu, eksistensi zending dan para pelayannya di sana harus terns diusik bahkan dimusuhi.
.
Sisa-sisa sikap seperti itulah yang masih dihadapi oleh keluarga pendeta Albert ketika bertugas pelayanan ke sana, sudah pada tahun 1943, enampuluh tahun setelah pengejaran dan pembakaran rumah tuan Bonn di tahun 1883. Sebagai suatu pembandingan tentang situasi resort Muara dan pengalaman pelayanan pendeta Albert persis 60 tahun kemudian, dengan rencana penangkapan dan pengejaran yang dilakukan penduduk itu kepada tuan dan nyonya Bonn di tahun 1883, inilah yang diberitakan Ephorus Justin Sihombing dalam buku5araf«.y Taon Huria Kristen Batak Protestan yang sudah banyak diacu di muka:
.
Pada bulan Februari 1883 tuan Bonn resmi dikukuhkan (Batak: diojakhon) di Muara. Namun tuan itu selalu di-"usili" oleh penduduk setempat. Mereka sesuka hati masuk ke rumah tuan itu, memegang-megangi semua barangnya, dan meludahkan air sirih mereka dalam rumah itu. Namun tuan dan nyonya itu tetap bersabar menahan diri menghadapi tingkah laku mereka. Pada suatu hari datang seorang datu berdiri di halaman runjah, lain tuan itu dan rumahnya dihujatnya (Batak: diburai) dan semua yang hadir bersorak-sorak gembira, lalu hendak merobohkan rumah itu ..,, dst. (diterjemahkan penulis dari aslinya dalam bahasa Batak).
.
Dalam satu-dua tahun pertama pelayanan pendeta Albert di Muara, hampir tidak ada perkunjungannya keluar dari kompleks godung yang tidak diusili oleh anak-anak dan remaja. Mereka selalu saja melempari pendeta itu dari tempat-tempat tersembunyi, meneriakkan kata-kata kotor yang tidak layak diucapkan oleh anak-anak remaja kepada orangtua. Pendeta itu sudah bercucu banyak kala itu, dan akan menjalani masa pensiun setelah menuntaskan pelayanan di sana.
.
Semua pelayan zending diberi nama rekayasa pelecehan
.
Pada mulanya keluara Pendeta Aibert Mengira semua insiden seperit yang disebutkan di atas hanyalah karena kenakalan kaum remaja saja. Tapi kemudian dapat diketahui, bahwa justru orang-orang dewasalah yang mem-provokasi para remaja melakukan kenakalan seperti itu. Pada suatu waktu, putra bungsu pendeta itu dicegat dengan sangat kasar di tengah jalan ketika akan pulang dari sekolahnya di pasar Muara. Anak kecil berumur tujuh tahun itu amat gugup dan ketakutan diperlakukan dengan kasar oleh orang-orang devvasa, yang kebanyakan sudah bapak-bapak. Dia diberondong dengan pertanyaan, pelecehan dan sindiran seperti: "Oh, jadi kau anak Pendeta 'Paodong' itu ya...," dst.
.
Anak bungsu pendeta Albert tidak tahu apa arti nama yang diberondongkan kepadanya. Menangis-nangis, anak kecil itu menjumpai ibunya di godung karena mendapat perlakuan kasar itu, dan bertanya kenapa orang-orang nakal di jalan menyebut ayahnya dengan nama lain yang "jelek"(?), yang tak pernah dia dcngar sebelumnya. Ibunya tak pernah memberi jawaban yang jelas. Kakak-kakaknya hanya menduga, mungkin itulah "nama sipelebegu" ayah mereka sebelum masuk Kristen dan menerima baptisan. Jadi orang Muara itu sengaja mencari-cari tahu "nama jelek" untuk "disapakan" kepada para pelayan zending di sana, hanya dengan tujuan pelecehan dan ejekan. Bahkan mungkin "nama lain" yang disindirkan kepada sipurra bungsu bukanlah nama-Batak asli pendeta itu, melainkan hanya nama rekayasa orang-orang bengal itu sendiri.
.
Belakangan, nama lain yang mereka berikan untuk pendeta Albert adalah "Pendeta Pendek," yang tujuannya juga suatu pelecehan. Barangkali ejekan itu masih lumayan kurang menyakitkan hati, ketimbang nama pendeta lain yang digantinya, yang mereka sebut "Pandita Sirepak," karena beliau itu pincang (repak = pincang). Seorang guru jemaat mendapat nama pelecehan "Guru Sibarung", karena leher beliau memang agak tinggi (panjang) seperti Cleopatra yang konon sangat cantik. (Sibarung adalah istilah Batak untuk burung bangau yang berparuh panjang). Puluhan gelar pelecehan juga diterima oleh para guru sekolah lainnya, termasuk yang bukan menjalankan tugas guru jemaat. Rupanya karakter bengal masyarakat seperti itu bukan hanya monopoli orang Butar saja di era 1880-an (lihat Bab III, Bagian Pertama buku ini).
.
Beberapa putra Muara di zaman modern ini
.
Jauh kemudian hari, bila putra-putn pendeta Albert bertemu dan bernostalgia dengan orang Muara dan mengungkit kembau nostalgia tentang hajungkaton orang Muara, eksponen generasi itu selalu malu-malu kucing berargumentasi. Mereka katakan bahwa tidak semua orang Muara mempunyai perangai yang "jungkat". Memang, dari warga jemaat-jemaat cabang, cukup banyak yang amat menaruh hormat kepada keluarga pendeta Albert dan para pelayan zending lainnya.
.
Sebenarnya yang paling "jungkat" itu terutama adalah yang dari kawasan jemaat induk (godung), dengan kampung-kampung intinya bernama Lobutangga, Silalitoruan dan Simatalo. Namun mereka tak menyangkal bahwa ada juga orang di jemaat-jemaat cabang yang berprilaku "jungkat", walaupun tak banyak. Putra-putri pendeta itu yang langsung turut mengikuti pelayanan ayahnya selama hampir lima tahun di Muara, agaknya dapat membenarkan argumentasi beberapa rekan generasi pelanjut Muara itu.
.
Tak urung, dengan pahit-getir dan suka-duka pengalaman keluarga pendeta Albert di jemaat Muara, tiga dari delapan orang putrinya ternyata dilamar dan menikah dengan putra-putra kawasan itu, masih ketika pendeta itu melayani di sana. Pelayanan dini zending dan yang dilanjutkan oleh pendetaAlbert pada kurun 1943 sampai 1948, akhirnya cukup berbuah. Antara lain yang mungkin dapat disebutkan adalah almarhum Letjen. (Purn.) Adolf Sahala Rajagukguk dari jemaat-cabang Huta Lontung. Menurut tahun kelahirannya dan tahun masa pelayanan pendeta itu, sangat boleh jadi baptisan Sahala dilayani oleh pendeta itu, bila orangtuanya masih bermukim di Huta Lontung kala itu. Kakek Sahala sendiri, raja-ihutanJohannes Partahan Batu dari kawasan Huta Lontung, besahabat cukup kental dengan keluarga pendeta itu. Seorang keturunannya yang lain ialah Humala Rajagukguk S.H., mantan pejabat tinggi pada Departemen Keuangan R.I.
.
Kelak di tahun 1970-an, seorang cucu perempuan raja itu mengatakan kepada salah seorang putra pendeta Albert, ketika "ompung" (maksudnya pendeta itu) akan pindah dari Muara, keluarga merekalah yang mendapat hibah lemari besar pendeta itu yang tidak akan dibawa pindah. Tentu saja maksud cucu raja itu, keluarga pendeta itu mendapat sekedar penggantian uang, tapi tidak disebut sebagai uang pembelian, melainkan "uang sangu" bagi keluarga sahabat yang akan pindah. Itulah antara lain sisi persahabatan yang tulus dengan warga Muara, yang antara lain dapat dikenang.
.
Seorang putra Muara yang lain dan dapat ditelusuri penulis dari masa pelayanan pendeta itu, adalah almruhum Sintua Martua Rajagukguk S.H., keturunan raja Ompu Sorta Uluan dari Pulau Sibandang. Kebetulan Martua adalah adik-sepupu salah seorang menantu pendeta itu. Kelak, Martua dikenal warga HKBP menjadi anggota Majelis Pusat untuk beberapa periode, yang turut aktif dalam penyelesaian berbagai kemelut yang sering terjadi dari kurun 1974 sampai 1990-an.
.
Di antara beberapa pendeta putra ressort Muara yang dapat dilacak oleh penulis, antara lain adalah Praeses Hendrik Rajagukguk, ayahanda Pdt. Dr. Robinson Rajagukguk, yang mantan Ketua STT HKBP Pematang Siantar. Praeses Jalongos Manullang MTh adalah juga putra seorang sintua dari jemaat-cabang Untemungkur. Dapat pula disebutkan nama salah satu putra jemaat-cabang Untemungkur lainnya, St. Rajani Simatupang S.H., seorang pensiunan jaksa tinggi, untuk menyebut hanya beberapa di antara para putra resort Muara dari zaman kepelayanan pendeta Albert di sana.

Pelayanan Kependetaan - Bahalbatu, Parmonangan, dan Pollung


Setelah berumur lebih dari enampuluh tahun dan melayani lebih dan 35 tahun di ladang Tunan, pendeta Albert merasa kondisi risiknya sudah s an gat menu run. Deraan pekerjaan cukup berat dalam pelayanannya sebagai pendeta yang kebanyakan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Lima resort besar sudah dilayaninya hanya dalam profesinya sebagai pendeta saja. Masing-masing resort itu mempunyai antara 10 sampai 20an jemaat-cabang. Dapat difahami kenapa kondisi fisik pendeta itu begitu melorot dalam usianya yang sudah 60 tahun. Secara pelan-pelan, mulai tahun 1946, dia sudah mengajukan permohonan pensiun. Tapi Ephorus Justin Sihombing membujuknya supaya tetap bertahan dulu, menunggu sampai tamatnya sekolah pendeta angkatan pertama yang bam dibuka sejak bubarnya zending di tahun 1940. Tahbisan pendeta baru itu diharapkan pada tahun 1948.
.
Ephorus Justin sangat menaruh respek kepada pendeta Albert, setidak-tidaknya karena tiga hal. Pertama, karena mereka sesama sepupu-jauh dari kawula marga Sihombing, yakni Hutasoit dan Lumbantoruan. Justin selalu menyapakan hahang (abang) kepada Albert dengan amat santun. Adalah Ephorus Justin yang di sekitar tahun 1944 menganjurkan supaya Albert bersedia menjadi praeses Humbang, mungkin sebuah usulan yang kini dapat dianggap berbau KKN. Tawaran itu justru ditampik pendeta Albert dengan santun karena merasa kurang mampu, dan sebaliknya menganjurkan seorang junior dan mantan muridnya, pendeta Fridolin Sihombing, seperti sudah diberitakan di muka.
.
Alasan kedua tentang respek Ephorus Justin kepada Albeit adalah, karena dia adalah kakak-angkatannya dalam sekolah pendeta, dan bahkan guru yang digantikannya di jemaat Siborong-borong pada tahun 1918. Seperti diketahui secara umum, semua pendeta HKBP kelak selalu merasa dan menyebut diri sebagai "adik" dari para kakak-kelasnya dalam keluarga besar para pendeta-pribumi. Dan alasan ketiga adalah, memang Ephorus Justin sangat menaruh respek terhadap kebersahajaan Albert sebagai seorang pendeta, sebagaimana dia sendiri juga.
.
"Semi-berpensiun"
.
Namun pada pelaksanaan Sinode Godang 1948, Ephorus Justin agaknya tak dapat lagi membendung bujukan Albert untuk pindah atau pensiun dari resort Muara yang jumlah jemaat-cabangnya hampir duapuluhan itu. Juga karena pendeta pribumi angkatan pertama zaman revolusi (pasca-zending) sudah tamat, meskipun jumlahnya sangat terbatas, hanya sekitar 16 orang. Namun ephorus bukan langsung menyetujuinya berpensiun penuh pada usia sekitar 62 tahun itu.
.
Ephorus justru mengajukan tantangan dan rangsangan yang bersifat sentimental kepada Albert, untuk "membuka kembali" resort Bahalbatu, yang sudah puluhan tahun melorot dari statusnya sebagai jemaat-resort menjadi jemaat-cabang. Seperti diketahui melalui sejarah HKBP dan zcnding, di kawasan Humbang, bahkan sampai ke Toba Holbung, jemaat yang paling pertama dibuka oleh Nommensen di luar Pearaja, Huta Dame dan Pansur Napitu adalah Bahalbatu, pada tahun 1872. Jemaat Bahalbatu itu bahkan hanya satu-satunya di luar Pearaja jang terus-menerus dibcritakan dalam Almanak HKBP, sebagai jemaat dengan rajanya yang menghibahkan tanah kepada zending setelah Raja Pontas di Pearaja. Hingga kini!
.
Dapat difahami kalau pendeta Albert tertantang dan terangsang dengan tawaran ephorus itu. Dia bersedia menjadi pendeta resort Bahalbatu yang akan dibuka kembali, dengan hanya tiga-empat jemaat-cabang yang tadinya masuk resort Siborong-borong, bahkan sebagian Silindung, menjadi jemaat-cabang resort "yang dibarukan" itu. Demikianlah pada tahun 1948 pendeta Albert pindah dari resort Muara ke resort Bahalbatu, kampung asal dan kelahirnya, melayani untuk yang ketiga kalinya. Dua kali sebelumnya adalah sebagai guru-zending.
.
Ternyata tugas berat, terutama karena harus banyak berjalan kaki pada usia tua, belum selesai. Apa pasal? Dengan amat lembut, ephorus membujuk-bujuk lagi "hahang"-nya itu supaya bersedia juga melayani resort Parmonangan. cukup hanya dengan melakukan kunjungan-kunjungan sesaat. Resort itu sudah lama tidak berpendeta, sejak kepindahan pendeta Gomar Sihombing dari sana pada masa masuknya Jepang.
.
Kekurangan tenaga pendeta pribumi sebagai akibat ditangkapinya para pendeta Jerman membuat HKBP sangat kekurangan tenaga pendeta. Konon pada masa itu ada guru atau bahkan sintua pada jemaat yang amat terpencil menggunakan mantel hitam yang panjang, memimpin suatu kabaktian khusus, misalnya pemberkatan nikah, dengan" harapan kesan-nya (image) dianggap atau dibayangkan warganya seolah-olah sebagai pelayanan seorang pendeta yang bertoga hitam. Ada pula pemberitaan bahwa dalam kebaktian minggu misalnya, seorang sintua yang berkhotbah di mimbar hanya bisa mengenakan jas tua yang sudah lusuh, sementara bagian bawah hanya menggunakan mandar (sarung), untuk menggantikan fungsi celana panjang yang sudah tidak dipunyai lagi.
.
Kekosongan pelayan di resort Parmonangan sangat menyulitkan dalam hal pelayanan sakramen, perjamuan kudus, dan terutama baptisan. Sebagian \varga jemaat HKBP juga sudah dicoba "garap" oleh sekte lain. Sebaliknya, persembahan jemaat-jemaat perlu dikumpulkan untuk dibawa ke Kantor Pusat Pearaja, justru karena kawasan Parmonangan kala itu sedikit mengalami "boom" (kemakmuran) sebagai akibat kembali membaiknya harga kemenyaan, komoditas utama kawasan itu. Tercatat, dalam tahun 1948 dan 1949 pendeta Albert melakukan dua kali kunjungan pelayanan berkeliling yang lamanya mas ing-mas ing satu setengah bulan, mencakup lima sampai tujuh jemaat Parmonangan kala itu.
.
Tiga pengalaman lucu
.
Setidak-tidaknya ada tiga hal yang lucu dicatat oleh keluarga pendeta Albert daiam kunjungan pelayanan itu. Pada kunjungan pertama, pendeta itu mengajak seorang doli-doli (pemuda) kampungnya untuk menjadi "ajudannya" di perjalana-nan. Dalam istirahat tidur pada suatu malam, pendeta itu mendengar "ocehan" pemuda itu tentang cara dia dan rekan-rekannya pemuda kampung mencuri dan memakan seekor anak babi. Ternyata anak babi itu justru ternak piaraan istri pendeta itu scndiri.
.
Dengan sedikit menggelikan, ketika pendeta Albert akan memberikan upah jerih-payah si pemuda karena telah menemaninya dalam pelayanan berkeliling jalan-kaki hampir selama dua bulan ke jemaat Parmonangan, pendeta itu mem-bisikkan bahwa melalui igauan dalam mimpinya, dia sendiri tclah memberitahukan bahwa pencuri anak babi itu adalah dia dan rekan-rekannya. Dengan amat malu, pemuda yang sebenarnya berkelakuan cukup baik itu mengatakan bahwa dia hanya terpaksa ikut-ikutan mencuri anak babi istri pendeta, daripada dia harus dicap sebagai "bersikap banci" oleh rekannya anak-anak kampung yang nakal. Ada-ada saja!
.
Pengalaman menggelikan kcdua adalah keheranan putra bungsu pendeta itu, yang pada kunjungan kedua diajak sebagai ajudannya, karena sekolah rakyat kala itu "diliburkan" saja satu tahun penuh sebagai akibat perang-gerilya. Di kawasan Hurlang, dilihatnya pemuda-pemuda dan kaum bapak menjajarkan empat sampai lima buah pulpen baru di saku bajunya. Sebagai anak yang duduk di kelas enam sekolah rakyat kala itu, putra pendeta itu amat tergiur dengan kepemilikan begitu banyak pulpen oleh setiap orang di kawasan Hurlang. Apa pasal? Rupanya mereka itu justru banyak yang buta huruf. Karena itu, sebenarnya mereka tak perlu menggunakan satu buah pulpenpun. Memborong pulpen itu justru mereka lakukan sebagai suatu "pemantas" atau gengsi-gengsian, karena dadakan kemakmuran yang dibawa oleh hasil penjualan kemenyan mereka yang sedang mengalami "bonanza" itu.
.
Konon, pendeta itu juga mendengar satu berita unik dari sana, bahwa di salah satu kampung kawasan itu pcrnah seorang ibu jatuh sakit keras, hanya karena begitu ingin melihat dengan mata-kepala sendiri apa yang disebut "motor" (maksudnya mobil). Barang unik itu sudah mulai muncul lagi, sesudah zaman paceklik pada masa pendudukan Jepang. Diberitakan pula, bahwa penyakit ibu itu katanya langsung sembuh, setelah menyaksikan kendaraan beroda empat itu di pekan Doloksanggul.
.
Malah kembali jadi pelayan purna-waktu
.
Pada tahun 1950, Ephorus Justin bahkan seperti ingin "mengingkari" janii dan izinnya untuk membuat pendeta. Albert dapat menjalani masa semi-pensiun di kampung halamannya, Bahalbatu. Dengan lebih lembut, dia bujuk lagi "hahang"-nya, pendeta-tua itu, agar bersedia lagi berjemaat "resort-penuh" ke Pollung, Marbun, sebuah ressort antara Dolok Sanggul dan Sidikalang. Jangka pelayanan yang diminta ephorus adalah menunggu sampai tamatnya para pendeta kelompok angkatan kedua yang dididik setelah zaman pendudukan Jepang. Kelas itu akan dibuka pada tahun 1951, dan diharapkan akan tamat pada pertengahan tahun 1953. Kala itu pendeta Albert sudah berusia 64 tahun.
.
Ephorus memesankan, ada satu misi khusus yang tak dapat ditolak oleh panggilan batin dan hati pendeta tua itu. Isi pesan itu: "Jemaat Pollung memerlukan layanan pendeta, dan harus yang sangat senior, untuk membendung semangat ekspansi oleh Katolik di Huta Paung, yakni salah satu jemaat-cabang Pollung, dan oleh HChB, yang kemudian berproses menjadi HKI, justru di lingkungan jemaat-induk Pollung sendiri. Lebih unik lagi, justru guru dan pimpinan jemaat HChB di kawasan jemaat-induk Pollung adalah seorang guru muda-usia, Ephraim Sihombing, sepupu yang lumayan dekat, berasal dari kampung Bahalbatu sendiri.
.
Kesetiaan model lama kepada "misi zending" mendorong batin pendeta Albert mcmenuhi bujukan ephorus. Dia bahkan masih dapat melayani di sana sampai pertengahan tahun 1953, pada usia sekitar 67 tahun. Jemaat cabangS/r/W/a, yang pcrnah menjadi terkenal dalam zaman Orde Baru karena soal kerakusan untuk menguasai tanah-ulayat masyarakat adat di sana oleh unsur oknum Orde itu, adalah salah satu jemaat cabang pendeta itu. Dalam perjalanan pulang pelayanan dari salah satu jemaat bernama Sipitu Huta dekat Siria-ria pada suatu hari Minggu, pendeta yang sudah berusia sekitar 67 tahun itu benar-benar "collapse," jatuh pingsan dari sepedanya di tengah jalan, karena daya tahan fisiknya yang sudah sangat melorot. Karena itu, pada bulan Agustus 1953, ephorus benar-benar memensiunkan pendeta itu secara penuh, pada usia sekitar 67 tahun.
.
Tapi pemensiunan penuh itu sebenarnya baru dapat terlaksana karena para siswa sekolah pendeta angkatan kedua (pasca-zending) telah berhasil ditamatkan pada pertengahan tahun itu. Jumlahnya memang cukup banyak, sekitar 40 orang. Angkatan itu bahkan adalah yang pertama kali terbanyak sepanjang sejarah zaman zending dan HKBP, sebelum tahbisan-tahbisan model angkatan lulusan STT. Di antara para tamatan angkatan itu antara lain adalah para pendeta Lofofl J. Napitupulu, Benoni Napitupulu, Sulaeman Bonaparte Siregar dan Gayus Lumbantoruan, yang kemudian hari semuanya cukup lama menjadi praeses HKBP.
.
Rahmat pengganti uang pensiun HKBP
.
Ada satu rahmat yang amat disyukuri oleh pendeta Albert ketika masih melayani di Pollung, yakni perkenan pemerintah mengangkatnya menjadi guru agama pada sekolah rakyat ncgcri setempat. Ketika dia pindah berpensiun dan menetapkan tempat domisilinya di Siborong-borong, dia mohon dipindahkan pula sebagai guru agama pada salah satu sekolah-rakyat negeri di kota itu. "Pucuk dicinta, ulam tiba." Ternyata sekolah yang diberikan Jawatan Agama Tapanuli untuk diajarnya adalah SMP Negeri Siborong-borong, dan bukan lagi tingkat sekolah rakyat (sekolah dasar) seperti di Pollung.
.

Pdt Albert dan istri, tahun 1960

.
Mungkin penganugerahan status guru agama Kristen untuk tingkat sekolah menengah ada sedikit berbau primordialisme. Guru Methusala adalah adik-angkatan jauh pendeta Albert di Seminari Sipoholon, Ketika Methusala mengikuti sekolah guru, pada saat itu Albert mengikuti sekolah-pendeta dalam kampus, yang sama. Tapi lebih dekat lagi, Methusala adalah sepupu-jauh ibu Albert, Boru Siahaan dari Lumban Gorat, Balige. Mungkin itulah yang metnbuat permohonan menjadi guru agama sebelumnya pada usia'sekitar 64 di Pollung menjadi klop.
.
Mungkin karena itu pulalah kemudian datang penjelasan lanjutan yang mengatakan, bahwa sesuai dengan senioritasnya, pendeta Albert layak mendapat kepangkatan guru agama untuk tingkat sekolah menengah. Uniknya, dalam usianya yang sudah mencapai 67 tahun, dia masih dapat membaktikan diri dalam pelayanan sebagai guru agama sampai dengan saat ditimpa "stroke" pada tahun 1959, kala usianya bahkan sudah mencapai 73 tahun. Di antara ratusan siswanya kemudian yang dapat dilacak oleh penulis adalah almarhum pendeta Dr. Bonar Situmorang, mantan rektor STT HKBP.
.


Pemberitaan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) Medan tentang Orem Boru Hutabarat yang meninggal dunia pada bulan Desember ]983. Gambar di-copy dari berita terrsebut
.


Orem Br Hutabarat "Cucu" Rasul Batak Nommensen Meninggal Dunia


Medan,

Dalam usia yang cukup banyak, 89 tahun, Orem br Hutabarat, dijuluki sebagai "cucu" Dr Nommensen Rasul Batak, meninggal dunia di Jakarta Jumat 2 Desember kemaren.

Ayahnya, almarhum Evangelis dan guru Daniel Hutabarat dan ibunya almarhumah Maria br Siregar, membantu Nommensen pada awal penyebaran Injil di Tanah Batak (pernah dimuat di SIB beberapa tahun lalu).

Kedua orangtuanya itu termasuk murid-murid pertama Nommensen yang dididik di Huta Dame, Saitnihuta, Tarutung, Taput, yang langsung berasal dari pelbegu. Karenanya termasuk orang-orang Batak pertama yang mengecap pendidikan. Abangnya Maria sendiri, yang punya hubungan kekeluargaan dengan Raja Sisingamangaraja XI, sudah dikirim belajar ke Jerman, di zaman itu.

Maria br Siregar sendiri, yang kemudian disebut sebagai "puteri" Nommensen, diketemukan di hutan ketika dipersembahkan sebagai kurban kepada berhala, sewaktu masih gadis kecil.

Orem, lahir 19 Maret 1895, kawin dengan Pendeta Albert S Lumbantoruan dan mempunyai 12 anak terdiri dari 8 puteri dan 4 putera, yang semuanya sudah memberikan kepada almarhumah cucu, cicit, dan piut, hingga saat meninggalnya 182 orang.

Sejak 21 April 1969 almarhumah sudah menjanda.

Semasih hidupnya, oleh putera-puterinya kepada alamarhumah sudah dilangsungkan pesta adat Batak "saur matua" (adat "turun - mangolu") ketika masih segar bugar di Siborong-borong tahun 1979.

Orem meninggal dunia di rumah puteranya Drs Pirmian Sihombing MSc di Tanah Kusir Jakarta, pagi ini jenazahnya tiba di Polonia Medan, diterima puteranya Pitono Hombing, dan langsung dibawa ke Siborongborong untuk dimakamkan di samping almarhum suaminya hari Senin di Bahal Batu . (R6)

.
Putra-putra bermarga Sihombing-Siopat Ama (marga Sihombing yang menjadi empat cabang) dari seluruh Humbang yang menempuh pendidikan SMP Ncgeri di Siborong-borong pada kurun waktu 1953-1959 itu, amat banyak mengenang "ompung" dan "bapak-tua" mereka itu, yang sering juga mereka gelari "Pendeta Pendek." Kali ini dengan sapaan dan penggelaran mesra, karena mereka sebenarnya sangat menghormatinya. Bagaimana tidak? Justru putra-putra bermarga Sihombing inilah yang paling sering ditunjuk guru-agama Albert mengucapkan ayat-ayat (nats) dari Alkitab yang disuruh hapal luar-kepala dan diucapkan secara lengkap di depan kelas. Dan kalau tidak pas, kuping putra-putra marga Sihombing itu akan "dipilin" sampai merah. Kadang-kadang dengan menyebut-nyebut nama ayah mereka, yang memang semuanya sangat dikenal dan mengenal pendeta pensiunan yang guru agama itu.
.
Tapi pengajaran agama seperti itulah misalnya yang mengantarkan para pendeta Kondar Lumbantoran, Belsingk Sihombing, Aller Sihombing, Edison Lumbantoruan dan banyak pendeta HKBP sekurun-waktu (termasuk Dr. Situmorang tadi), yang dibina dengan amat keras tapi mesra oleh guru dan orangtua, yang bahkan mereka panggil ompung pendeta pendek itu. Ini amat mereka kenang jauh kemudian hari, terutama bila mereka bertemu dan bernostalgia dengan keturunan pendeta itu.
.
Demikianlah pendeta Albert akhirnya menjalani masa pensiun penuh setelah menjadi guru-jemaat dan guru sekolah-zcnding (kurun 1910-an), pendeta zending (kemudian menjadi HKBP) sampai tahun 1953, dan guru agama sekolah negeri sampai tahun 1959. Semua masa pelayanannya di ladang Tuhan berjumlah 49 tahun secara berkesinambungan.
.
Albert dan istrinya tidak pernah merisaukan uang pensiun dari "mantan zending" yang dulu merekrut dan diabdinya, dan HKBP sendiri. Meskipun dulu pernah membayar kontribusi bulanan untuk itu, masih dalam bentuk hard currency (uang bernilai "keras") pula, yakni gulden Belanda. Akumulasi kontribusi dana pensiun yang dibayarnya sampai dengan saat zending "gulung tikar," lenyap begitu saja di zaman ambil-alih zending oleh Batak-Nias Zending (BNZ), iembaga yang diciptakan sesaat oleh pemerintah kolonial Belanda. Lembaga itu kemudian menimbulkan kontroversi, dan langsung melahirkan HKBP yang ber-ephorus-kan pendeta pribumi pertama pada tahun 1940.
.
Kala Albert berpensiun penuh sebagai pendeta pada tahun 1953, sampai saat dipanggil Tuhan pada tahun 1969, tidak pernah ada pembayaran uang pensiun yang resmi dari HKBP untuk para pendetanya. Seingat anak-anaknya, hanya sekali setahun pendeta itu dikirimi oleh Kantor Pusat HKBP hepeng sipalas roha (harfiah: uang si pembikin hati senang) sebesar Rp.25.000, yang katanya untuk pembeli fagal (daging) Hari Natal dan Tahun Baru. Selebihnya, adalah dermawan dan pengusaha kondang T.D. Pardede yang selalu mengoleh-olehi para pendeta pensiun yang sudah amat uzur, masing-masing sebuah selimut setiap akhir tahun, dengan ucapan penghiburan masa-tua yang santun dan mesra. Konon, selimut itu diproduksi oleh pabrik tekstil milik Pak Pardede sendiri.
.
Pendeta Albert tidak pernah mengeluh tentang tidak adanya uang pensiun reguler dari HKBP di zaman itu. Bukankah kebetulan dia menerima uang pensiun dalam tingkat kepangkatan yang cukup lumayan sebagai guru agama di sekolah lanjutan menengah pemerintah? Para putra, putri bahkan cucu-cucu pendeta itu dianugerahi rezeki dan penghidupan yang cukup layak oleh Tuhan. ';Anak-anak kami itulah pensiun kami...," begitu selalu istri pendeta itu berucap atas pcrtanyaan orang lain tentang uang dan cara berpensiun mcreka di lingkungan HKBP.

Kekeluargaan dan Akhir Pelayanannya

Tuhan menganugerahkan hagabeon (berketurunan banyak) kepada keluarga pendeta Albert dan istrinya Orem Boru Hutabarat. Seperti ibunya, Maria Boru Siregar yang putri-angkat Ephorus Nommensen itu, Orem juga melahirkan sebanyak 14 orang anak, yakni enam orang laki-laki dan delapan orang perempuan. Justru berbeda dcngan ibunya yang hanya melihat sembilan orang putria-putrinya yang sempat berkeluarga, Orem menyaksikan empat orang putra dan kedclapan orang putrinya sempat berkeluarga. Nazar zendeling Nommensen bagi putri-angkatnya, Maria, agar kiranya dikaruniai "hagabeon" dan kemajuan bagi semua turunannya oleh Tuhan kelak, rupanya memang menjadi kenyataan. Antara lain melalui keturunan putra dan putrinya, termasuk Orem, istri pendeta Albert.
.
Keempat-belas putra-putri pendeta itu, mulai dari yang tertua, menurut urutan kelahiran mereka, adalah sebagai berikut:
.
1. Tola Emmas (perempuan, lahir di jemaat Gotting pada tahun 1912) menikah dengan Jansihar Simanungkalit, putra seorang guru-zending dari Pinangsori. Kelak Tuhan memberkati mereka dua orang putra dan dua orang putri. Mereka berdua tutup usia di Pinangsori dan Sibolga.
.
2. Dorthia (perempuan, lahir di jemaat Gotting pada tahun 1914), menikah dengan guru Bonifacius Sianturi, seorang here (kemenakan) pendeta itu. Mereka dikarunia Tuhan 5 orang putra dan 3 orang putri yang sempat berkeluarga. Mereka berdua tutup usia di Wingfoot (Aek Nabara), Labuhan Batu.
.
3. Mangara Santun (laki-laki, lahir di jemaat Siborong-borong pada tahun 1917), menikah dengan Maruli Laut Boru Simanjuntak, putri mantri-polisi Philemon Simanjuntak dari Hutagurgur. Dia adalah seorang doseri pada Universitas Diponegoro, dan terakhir berpensiun sebagai kepala Sekolah Indonesia di KBRI Cekoslovakia (1972). Keluarga ini dikarunia Tuhan 2 orang putra dan 3 orang putri yang semuanya sudah berkeluarga. Mangara tutup umur dalam usia 84 tahun, dengan mendapat penghormatan kebaktian perkabungan-pelepasan di gereja HKBP Kebayoran Baru, karena dia adalah guru koor kaum "Lansia" (lanjut usia) di jemaat itu, dan pernah menjadi sintua dan sinodist HKBP dari jemaat Semarang.
.
4. Bonar (laki-laki, lahir pada tahun 1919 di jemaat Huta Namora), meninggal dunia dalam usia 3 tahun di Seminar! Sipoholon, ketika pendeta itu mengikuti pendidikan kependetaan di sana.
.
5. St. Obrien Daulat Paul (laki-laki, lahir di Seminari Sipoholon pada tahun 1921), menikah dengan Alfonsina Abethsina Sipasulta, putri guru jemaat Melkhias Sipasulta yang berasal dari Saparua, Ambon, tapi sepanjang hidupnya mclayani jemaat dan sekolah Kristen di Toraja, Sulawesi Selatan. Semasa hidupnya Obrien adalah seorang pegawai tinggi Departemen Penerangan RI, terakhir dan berpensiun sebagai Atase Penerangan dan Kebudayaan KBRI Manila (1972). Dia tutup umur di tengah jemaatnya HKBP Menteng, Jakarta pada tahun 1982. Keluarganya dikarunia Tuhan dua orang putra dan dua orang putri yang semuanya telah berkeluarga.
.
6. Tiar Sanna (perempuan, lahir di jemaat Sihorbo-Barus tahun 1923), menikah dengan guru-zending Saidi Radjagukguk dari Pulo Sibandang. Saidi berpensiun sebagai Kepala SMP Negeri Ambarita, dan merupakan eksponen pendiri GKPI kawasan Samosir. Keluarganya dikarunia Tuhan 5 orang putra dan 8 orang putri. Salah satu putranya adalah St. Prof. Dr Bostang Radjagukguk dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Guru Saidi tutup usia pada tahun 1988 di Siborong-borong dan dimakamkan di kampimg halaman ncnck-moyangnya di Pulo ni Pardopur, atau Sibandang, Muara.
.
7. Dori Alam (perempuan, lahir di jemaat Bams pada tahun 1925), menikah dengan guru Marudin Siregar dari Muara. Marudin terakhir menjadi kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani di kawasan Langkat. Keluarga ini dikaruniai Tuhan 6 orang putra dan 6 orang putri yang semuanya telah berkeluarga. Dori Alam meninggal dunia pada tahun 1999 di Binjai dalam usia 74 tahun; dan guru Marudin juga meninggal dunia di Binjai pada tahun 2003, dalam usia 78 tahun.
.
8. Sinta Uli (perempuan, lahir di jemaat Parsambilan pada tahun 1927), menikah dengan Si. Walter Lumbantobing dari Pematang Siantar. Walter adalah seorang cucu guru Abel Lumbantobing, satu di antara tujuh orang siswa angkatan pertama yang diutus oleh zending belajar di Seminari Depok pada tahun 1879. Keluarga St, Tobing dikaruniakan Tuhan 2 orang putra dan 3 orang putri, semuanya telah menikah. Pada tahun 1982, St. Tobing meninggal dunia di tengah jemaatnya, HKBP Kebayoran Baru, Jakarta dalam usia 52 tahun.
.
9. Siti Odor (perempuan, lahir pada tahun 1929 di jemaat Parsambilan), menikah dengan St. Mesman Aritonang-Oppusunggu dari Muara. Dikaruniai Tuhan 1 orang putra dan 4 orang putri, semuanya telah berkeluarga. Siti Odor telah meninggal dunia pada bulan Februari 2004 di Jakarta dalam usia 76 tahun. Putri tertua keluarga ini, Ria Rumata Aritonang, adalah anggota DPR-RI dari Fraksi GOLKAR pada zaman Orde Baru. Konon merupakan perempuan Batak Toba yang pertama menjadi anggota DPR-RI, yang terpilih melalui Pemilihan Umum. Keluarga Aritonang bermukim di Jakarta.
.
10. Reinhardt Tumpal Namulak (laki-laki, lahir pada tahun 1930 di jemaat Parsambilan), meninggal dunia di jemaat itu pada tahun 1933.
.
11. Jan Pieter (laki-laki, lahir tahun 1932 di jemaat Parsambilan), lebih akrab dikenal komunitasnya dengan nama Pitono Hombing. Dia menikah dengan Mariomas Boru Gultom, putri dari St. Domitian Pangaga Guitom dari Grogol, Jakarta. Mariomas meninggal dunia di Medan pada tahun 1986 dalam usia 46 tahun. Pitono turut aktif sebagai warga-awam yang mendirikan GKPI Sriwijaya, Medan, sejak dari masa pembentukannya. Keluarga ini dikarunia Tuhan 3 orang putra dan satu orang putri; tiga orang di antara mereka telah berkeluarga.
.
12. St. Rosulla Gugun (perempuan, lahir di jemaat Pangaloan-Pahae pada bulan Juni 1934), menikah dengan Arsenius Siahaan dari Balimbingan, Tanah Jawa. Keluarganya dikaruniai Tuhan 3 orang putra dan 2 orang putri. Tiga orang di antara anak-anaknya sudah berkeluarga. Mereka berdua telah tutup usia di tengah jemaatnya, HKBP Menteng-Jalan Jambu, Jakarta.
.
13. St. Pirmian Tua Dalan (laki-laki, lahir di jemaat Pangaloan pada tahun 1936), dan menikah dengan Mintha Uluhon Parotua Boru Hutabarat, putri ipar- kandungnya Victor Sahalaraja Hutabarat, dan cucu tulang-nya, pendeta Josua Hutabarat. Mereka dikarunia Tuhan 1 orang putra dan empat orang putri, tiga orang di antaranya sudah berkeluarga. Oleh ayahnya, Pirmian mendapat nama baptis tambahan Tua Dalan (tuah di jalan) karena memang terlahir di tengah jalan pada tahun 1936, yang diberitakan dalam Prologue buku ini. Ketika itu ayahnya melayani jadi pendeta di jemaat Pahae, dan ibunya sedang dalam perjalanan menuju rumah-sakit bersalin di Tarutung. Duapuluh-dua tahun hidupnya dibaktikannya sebagai sintua, 15 tahun di antaranya menjadi guru-jemaat pada HKBP Kebayoran Lama. Dia terpilih menjadi anggota Majelis Pusat, dan menjadi Ketua Dewan Kcuangan Umum HKBP pada periode-pelayanan 1992-1998. pia adalah penulis buku seri-trilogi ini.
.
14. Anak terakhir pendeta Albert ada\ahBasaria (perempuan, lahir di jemaat Pangaloan pada tahun 1938), dan menikah dengan Jasmen Siahaan, dan dikaruniai Tuhan 2 orang putra dan 1 orang putri. Setclah menjanda, Basaria menikah lagi dengan Marthinus Wolo, seorang perwira polisi berasal dari Flores, dan dikarunia Tuhan seorang anak perempuan. Martinus meninggal dunia di Jakarta.
.
Tutup usia
.
Pada tanggal 21 April 1969, dalam usia diperkirakan sekitar 83 atau 84 tahun (karena lahir masih pada zaman sipelebegu tidak diketahui tanggal lahirnya), pendeta Albert tutup usia di rumahnya yang asri di Siborong-borong. Jenazahnya dimakamkan di kampung halainannya, Lumban-holbung, Bahalbatu. Acara pemakamannya dipimpin langsung oleh ephorus dan sekretaris jenderal HKBP (seperti dapat dibaca dalam "berita obituari" pada berkala Immanuel edisi bulan Juni 1969 dalam lampiran buku ini). Berkat "tumpangan tangan" penutupan peti Jenazahnya dilakukan oleh ephorus, sekjen dan puluhan pendeta Distrik Humbang dan pendeta simpatisan lainnya di gereja HKBP Siborong-borong, tempat dia melayani sebagai guru-zending muda-usia pada tahun 1914-1918.
.
Sedang istrinya, Orem, tutup usia di rumah putra bungsunya pada bulan November 1983 di Jakarta, dalam usia menjelang 90 tahun, mengikuti pola usia panjang ibunya, Maria Boru Sircgar. Jenazahnya "diusung" pulang ke Bahalbatu oleh seluruh keturunannya, untuk disatukan dalam makam suaminya tercinta, pendeta Albert Sihombing-Lumbantoruan. Ketika Orem meninggal dunia, jumlah keturunannya adalah 321 orang, yang kala itu sudah sampai ke tingkat ondok-ondok (buyut). (Catalan penulis: Orang dan adat Batak selalu mencatat jumlah keturunan dengan memasukkan jumlah semua menantu, suami dan istri semua cucu kandung, cicit dan buyut).
.

Foto makam Pdt. Albert Sihombing di kampungnya Lumban Hoibung, Bahalbalu,

dibangun oleh para putranya pada tahun 1986

Epilogue

Penulis telah menyajikan Bagian Pertama dan Bagian Kedua buku Bahkan juga penyajian Buku Kedua dan Buku Ketiga yang meru-pakan seri-trilogi dengan buku ini. Maka, untuk menjadi padanan Prologue yang disajikan di muka, akhirnya penulis merasa perlu menyajikan sebuah epilogue yang bersifat refleksi singkat berikut:
.
Mungkinkah suatu proyek pembanggaan diri?
.
Sejak dari rencana permulaan penulisan buku ini, penulis selalu merasa waswas, mungkinkah gerangan penyajian lengkap seluruh kisah dalam ketiga seri-trilogi ini akan dianggap orang sebagai suatu upaya yang terlalu bersifat pembanggaan diri? Walaupun sebenarnya bukan untuk tujuan kepentingan orang-seorang saja, melainkan untuk kalangan satu keluarga-besar, yang nyaris dapat disebut sudah merupakan satu kawula?.
.
Banyak kawan, di antaranya para sejarawan dan missiolog, sudah sejak dari kurun-waktu sepuluhan tahun yang lalu mendorong penulis menyajikan isi yang dikisahkan dalam buku ini, karena kerangkanya sudah pernah dituturkan secara lisan kepada mereka. Dan setelah membaca beberapa cuplikan konsepnya jauh hari kemudian, mereka masih tetap berpendapat bahwa buku ini layak disajikan kepada umum. Apalagi karena isinya menyangkut pelayanan pada puluhan, bahkan ratusan jemaat di lingkungan Batakmission yang kelak menjelma menjadi HKBP. Bahkan juga di' lingkungan jemaat Methodist, dan beberapa denominasi gereja lainnya, termasuk yang berakar dari Batakmission.
.
Alasan yang lebih khusus lagi, agaknya isi buku ini perlu dihayati oleh generasi muda Kristen. Tidak kurang dari Pdt, Dr. J.R. Hutauruk, Ephorus HKBP, menyatakan demikian dalam Kata Sambutan yang disajikan beliau untuk penerbitan ketiga buku ini pada bulan Juni 2003. Begitu juga banyak pengamat yang sudah sempat melihat manuskripnya. Pendeta Dr. Jan S. Aritonang misalnya berkomentar bahwa buku ini dapat dikatakan bersifat "hagiografi", yang artinya penyajian biografi orang-orang kudus
.
Karena itu, kalaupuri ada bagian-bagian dalam buku ini yang mungkin terkesan seperti upaya "peyombongan" diri, hal itu sebenarnya jauh sekali dari pikiran penulis dan seluruh kerabat-sepupu yang merupakan keturunan tokoh-tokoh yang diceritakan. Teolog dan sejarawan Gereja Methodist Indonesia, Pdt. Dr. Richard Daulay misalnya mengatakan, adalah terlalu mubazir bila sengaja mengabaikan sebuah kisah pelayanan-penginjilan yang dimulai pada zaman keperintisan Zending di Tanah Batak, oleh suatu keluarga-besar yang dikatakannya telah menjadi suatu "pohon keluarga besar" atau familiy tree.
.
Seorang evangelis dan isterinya, yang merupakan naposo haholongan pelayan kesayangan), dan yang seorang lagi putri-angkat zendeling (kemudian menjadi ephorus) Nommensen, bersama seorang ipar kandungnya, telah melakoni karya pengabdian mereka sebagai evangelis dan guru-zending paling pemula di Tanah Batak Selatan dan Utara, pada era 1860-1870-an. Dan bahwa mereka kemudian menurunkan lima orang putra dan empat orang putri yang semua menjadi keluarga-keluarga pendeta dan guru-zending perintis, bahkan sampai derajat ketiga dan keempat, atau para cucu dan cicit evangelis itu.
.
Bahkan hingga dewasa ini (awal abad 21), generasi kelima atau buyut keturunan evangelis itu tetap ada yang menekuni bidang pekabaran Injil di ladang Tuhan. Karena itu, dengan adanya sejumlah sekitar 3000-an orang sampai pada generasi keenam-ketujuh dewasa ini, keturuna'n evangelis itu dan isterinya yang lahir sekitar akhir masa invasi kaum Pidari (1840-an) di Tanah Batak, agaknya cukup layak bagi mereka untuk kembali mengenang dan mengetahui sepak-terjang dan bakti-pelayanan moyang mereka yang dimulai lebih dari masa 150 tahun yang silam.
.
Tidak bertujuan menyangkal jasa bakti-pelayanan RMG
.
Kalaupun dalam buku ini penulis menyajikan banyak sekali model benturan antara pelayan zending dengan para zendeling, terutama sesudah era pasca-Nommensen, sama sekali tidaklah dimaksudkan untuk menyangkal apalagi meniadakan hasil karya pelayanan para zendeling Eropa. Tidak dapat dhnungkiri, bahwa Tanah Batak sekarang, khususnya bagian Utara, tidak mungkin akan menggapai kcmajuan sepesat itu dalam segala aspek kehidupan warganya, terutama dalam bidang keimanan, tanpa kedatangan para zendeling Eropa, dengan misi yang ditunjang oleh Rheinische Missions-Gesellschatf (RMG) dari Barmen, Jerman.
.
Karena itu, beberapa benturan yang disajikan di dalam buku ini hanyalah merupakan sajian romantika sejarah, atau suatu upaya koreksi yang perlut dilakukan kemudian terhadap tindakan dan sikap beberapa zendeling RMG, seperti tersaji dalam ketiga buku seri-trilogi ini. Kritik atau pemberitaan serupa juga disajikan dengan cara yang "mengalir" oleh sejarawan GKPI, Pdt. Dr. Jan S. Aritonang dalan Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak. Model penulisan dan pemberitaan yang serupa juga disajikan oleh banyak pengulas asing, seperti Dr. Johan Hasselgren, Dr. Paul B. Pedersen dan Dr. Lance Castles misalnya, serta penulis lokal, Dr. Richard Daulay.
.
Satu hal yang kiranya perlu pula disadari oleh generasi muda pembaca, bahwa tidaklah semua buah manis penginjilan dan kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan orang Batak Kristen yang dibawa oleh misi RMG pada dekade 1860-an ke Tanah Batak itu, hanya merupakan efek hasil karya para zendeling Eropa saja. Kedua-fihak, zendeling asing dan para evangelis-lokal, guru-zending dan para hulp-zendeling telah sama-sama menyumbangkan darma baktinya dalam seluruh aspek kehidupan beriman dan kemajuan duniawi yang akhirnya digapai oleh orang Batak-Kristen dewasa ini. Itu dinyatakan dengan komprehensif oleh Ephorus Hutauruk dalam Kata Sambutan yang disebut di muka.
.
Refleksi penutup
.
Sebuah refleksi singkat agaknya perlu penulis sajikan sebagai penutup bagian epilogue ini. Berdasarkan hasil penelitian intensif selama sepuluh tahun terakhir, dan sudah kira-kira 20 tahun sebelumnya, dalam persiapan sangat dini melalui dialog-dialog dengan para tetua keturunan orang-orang yang ditokohkan dalam ketiga buku seri-trilogi ini, penulis mengambil suatu kesimpulan dari pengakuan mereka, bawa Allah Bapa di sorga itu tetap maha adil. Dia tetap memberikan bimbingan dan anugerah-Nya kepada semua keturunan para pelayan-Nya yang ditokohkan dalam ketiga buku ini, dan kepada keturunan siapa saja, sepanjang mereka tetap setia berjalan di jalan-Nya.
.
Dan oleh karena itu, tanpa bermaksud menggurui pembaca, terutama generasi muda keturunan evangelis itu, sudah pada generasi keenam-ketujuh pada tahun 2004, nasehat nenek-buyut mereka, Maria Boru Siregar yang putri-angkat Ephorus Nommensen, tetap berlaku dan relevan. Orem, si putri bungsu Maria, semasa hidupnya senantiasa dengan tangkas dan hafal patokan nasehat ibunya itu, begini:
.
Kalian semua, keturunanku, yang tetap setia berjalan di jalan Tuhan, niscaya akan senantiasa mendapat berkat-Nya. Lain dari itu, yang bersangkutanlcth yang dengan sengaja mencemplungkan dirinya sendiri ke berbagai jurang kehidupan, kenistaan, neraka dunia dan akhirat. Tak lebih, tak kurang.
.
Amin.
.
TAMAT

Buku-buku (termasuk disertasi, thesis, dan skripsi)

Amran, Rush.: Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan. 1981, Cetakan Pertama
.
Aritonang, Jan S.: Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988
.
Asselt, G. van: Parbarita Na Uli di Tano Batak 1857-1875. Disadur oleh J.R. Hutauruk Tarutung: Biro Lektur HKBP, 1996
.
Azhari, Ichwan.: Hubungan Kesukuan dan Keagamaan; Analisa Historis Terhadap Suku Melayu. Dalam kumpulan karangan pada: Konflik dan Damai; Hubungannya Dengan Kesukuan dan Keagamaan. STT HKBP; Pematang Siantar: Pencetak Mitra, September 2003.
.
Castles, Lance.: Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940. (Terjemahan Maurits Simatupang). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2001
.
Daulay, Richard M.: Kekristenan dan Kesukubangsaan-Sejarah Perjumpaan Methodisme Dengan Orang Batak dan Orang-Orang Tionghoa di Indonesia 1905-1995. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1996
.
Gereja Kristen Protestan Angkola.: Sejarah Ringkas Kekristenan Daerah Sipirok-Angkola. Sipirok, Juni 1991
.
Hamka.: Antara Fakta dan Khayal: "Tuanki\ Rao", Jakarta: Penerbit Bulan-Bintang; 1974
.
Harahap, Elisa St.: Perihal Suku Bangsa Batak. Jakarta: Departemen P.P. dan K Balai Pustaka, 1960
.
————————————.: Hikayat Perjalanan Injil di Tanah Batak 1861-1936; tanpa penerbit
.
Hutauruk, J.R..; Kemandirian Gereja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia,1993
.
Jones, A.H.M.: Constantine and the Conversion of Europe. London: Hodder & Stoughton Limited; First printed, 1948.
.
Kraemer, H.: Sending di Hindia Belanda. Bagian dari: Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan (Penyunting: H. Baudet & I.J. Brugmans): Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, Edisi Pertama, 1987
.
Lumbantobing, Andar M.: Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1996
.
————————————.: Parsorion (Riwayat Hidup) ni Missionar Gustav Pilgram Dohot Hararat ni Hakristenon di Toba, (tanpa penerbit), Pematang Siantar, 1981
.
Lumbantobing, K.M.L.: Missionaris Lokal. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, tanpa tahun penerbitan
.
Lumbantobing, Ph.: The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God. Amsterdam: Jacob van Campen, 1956
.
Lumbantobing, Stephanus.: Hikayat Toean Nagori Moesa Manoeroeng. TebingTinggi, tanpa penerbit, 1928
.
Mansoer, M.D., et.al.; Sejarah Minangkabau. Jakarta: Penerbit Bhratara, 1970
.
Meerwaldt, J.H.: Johannes Pasaribu; Van Ellende Tot Geluk. Karangan Pertama dari Empat Tulisan dalam: "Pidari" - De Strijd van Het Licht Tegen De Duisternis in de Bataklanden; Utrecht: H.H.,Londt, 1903.
.
Moller, Miss J.: Harararat ni Hata ni Debata di Huria Sipoholon di Taon 1870-1920. Laguboti: Pangarongkoman Mission, 1920
.
Napitupulu, O.L.: Perang Batak - Perang Sisingamangaraja. Jakarta: Yayasan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja; Jilid I, 1972
.
O. Gorga Torsana dan Sutan Habiaran Siregar.: Perkembangan Turunan Toga Siregar. Buku Stensilan dalam rangka Pembangunan Tugu Toga Siregar; Medan,: April, 1974
.
Panjaitan, J.Th. (editor).: Panggilan dan Suruhan Allah; 75 Tahun Pekabaran Injil HKBP, 1899-1974. Pematang Siantar, Departemen Zending HKBP, 1974
.
Parlindungan, M.O.: Tuanku Rao: Jakarta, Tandjung Pengharapan, 1964
.
Pedersen, Paul B.: Darah Batak dan Jiwa Protestan; Perkembangan Gereja gereja Batak di Sumatra Utara. Diterjemahkan oleh Maria Th. Sidjabat et.al.; Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975.
.
Powell, Colin with Joseph E. Persico.: My American Journey. New York: Random House, First Edition, 1995
.
Pudjiastuti, Titik.: Pandangan Masyarakat Kini Terhadap Naskah Kuno Di Daerah Sumatra Utara. Jakarta: Dep. P & K, 1997
.
Rivers, Larry Eugene: Slavery in Florida. (Territorial Days to Emancipation). Florida, University Press of Florida, 2000
.
Schreiner, Lothar.: Adat dan Injil; Perjumpan Adat dan Iman Kristen di Tanah Batak. Diterjemahkan oleh P. Naipospos, et.al.; Jakarta BPK Gunung Mulia, 1994.
.
Siahaan, Amanihut N. dan H. Pardede.: Sejarah Perkembangan Marga-Marga Batak. Balige: Penerbit Indra, Cetakan kedua, tanpa tahun
.
Sibarani, A.: Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. C.V. Jakarta: Ever Ready Ltd.; Cetakan Kedua, 1979
.
Sijabat, W.B.: Ahu Sisingamangaraja. Jakarta: Sinar Harapan, 1982
.
Sihombing, J.: Saratus Taon Huria Kristen Batak Protestan - 1861-1961. Medan: Philemon & Liberty, 1961
.
Sihombing, P.T.D.: Mendengar Lezing Tuan Domine Tunggul Sihombing; dalam: Pelayanan Kontemporer Dalam Masyarakat Majemuk; Pengabdian Ephorus Emeritus Ds. DR. Tunggul Sihombing, Jakarta: Panitia Pemindahan Makam Ds. DR. Tunggul Sihombing dan Istri; 2002
.
Simatupang, T.B.: Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, Cetakan pertama, 1991
.
Sinaga, Richard.: Leluhur Marga-Marga Batak Dalam Sejarah, Silsilah dan Legenda. Jakarta: Cetakan Pertama. Penerbit Dian Utama, 1996
.
Sinambela, Poernama Rea.: Ayahku Sisingamangaraja XH-Pahlawan Nasionai. Jakarta: Penerbit Aksara Persada Indonesia; Oktober 1992
.
Siregar, J.U .: Dari Gereja Zending ke GKPA; Sejarah Perwujudan GKPA Dengan Latar-Belakang Perjalanan Zending di Daerah Angkola dan Mandailing. Jakarta: Percetakan Tapian Raya; 1999
.
Siregar, Sutan Habiaran.: Ompun Dera Boru Pane; Penerima-PengembangPertama Berita Injil di Bungandar-Sipirok, 1858. Diterbitkan sendiri; Medan: Pencetak Fa. APUL, Agustus 1996
.
STT HKBP.: Benih yang Berbuah; Hari Peringatan ISO Tahun Ompu i Ephorus Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, 6-2-1834-1984. P. Siantar: 1984
.
Sitompul, A.A.: Perintis Kekristenan di Sumatra Bagian Utara. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986
.
Situmorang, Sitor.: Toba Na Sae. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993
.
Sutrisno, Sulastin (penerjemah): Surat-Surat Kartini; Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Jakarta: Penerbit Jambatan; Cetakan Ketiga, 1985
.
Todd, Richard A.: Constantine and the Christian Empire; Satu bagian dari The History of Christianity; Singapore: Lion Publishing pic., Revised ed. 1990
.
Vergouwen, J.C.: The Social Organization and Customary Law of the Toba-Batak of Northern Sumatra. The Hague: Martinus Nijhoff, 1964
.
Warneck, J.: Djamita Huria. Cetakan Ketiga; Penerbit HKBP; tanpa tahun.

Memoirs dan Otobiografi

Hutabarat, Josua.: Otobiogrqft. (koleksi keluarga; tidak diterbitkan), Tarutung, 1916
.
Lumbantobing, Lamsana.: Angka Singot-singot ni Naung Masa di Panogu-noguon ni Debata di Pandita Lamsana: Otobiografi (koleksi keluarga; tidak diterbitkan), Tarutung: diselesaikan 1941
.
Lumbantoruan, M.S.: Beberapa Catalan Taringot tu Ulaon ni Amanta Nahinan di Hapanditaon; dokumen khusus keluarga; tidak diterbitkan; tanpa tahun.
.
Sihombing-Lumbantoruan, Albert.: Memoirs-Sejarah Hidup dan Pelayanannya. Dicetak-stensil khusus untuk lingkungan keluarga-besarnya; Manila: 1973
.
Siregar, Samuel.: Surat kesaksian pribadi kepada Dr. Fabri, Inspector RMG, Barmen, 14 Desember 1872; (semi-otobiografi)